Berita Misi Anak, 18 April 2026.

Esther dari Tanzania.
TIPS CERITA:
*Tunjukkan peta benua Afrika dan negara Tanzania di peta. Kemudian tunjukkan Pulau Zanzibar, lokasi Klinik Advent di Zanzibar yang akan menerima bagian dari persembahan triwulan ini.
*Dorong anak-anak di kelas Sekolah Sabat Anda untuk mengajak anak-anak lain untuk datang pekan depan. Esther adalah contoh bagaimana seorang anak dari keluarga non-Advent bisa diundang ke gereja, lalu menjadi jembatan bagi orang tuanya untuk kembali ke gereja.
*Pelajari lebih lanjut tentang Alive in Jesus, kurikulum Sekolah Sabat yang dikembangkan oleh General Conference untuk anak-anak dari bayi hingga remaja: https://aliveinjesus.info.
*Unduh foto untuk cerita ini dari Facebook: bit.ly/fb-mq.
CERITA:
Suatu hari, tiga anak datang ke rumah Esther di Tanzania. Setelah memperkenalkan diri, mereka bertanya apakah Esther ingin mengunjungi Sekolah Sabat mereka pada hari Sabtu.
"Kami adalah anggota Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, dan kami sedang berkeliling dari rumah ke rumah untuk mengundang anak-anak datang ke Sekolah Sabat," kata seorang anak perempuan.
"Belajar tentang Yesus dari Alkitab itu menyenangkan," tambah seorang anak lainnya.
"Kamu pasti akan menyukainya," kata anak ketiga.
Esther pun setuju untuk pergi ke Sekolah Sabat pada hari Sabtu.
Guru Sekolah Sabat menyambut Esther dengan hangat. Ia ingin menjadi sahabat Esther, dan bertanya tentang rumah dan keluarganya. Dari situ guru tahu bahwa ibunya Esther dulu pernah pergi ke gereja Advent, tetapi berhenti ketika Esther masih bayi. Jadi, Esther belum pernah mengunjungi gereja Advent sebelumnya. Ia hanya datang karena tiga anak yang datang ke rumahnya dan mengajaknya.
Guru menunjukkan kepada Esther bagaimana membaca Alkitab, dan mengundangnya untuk datang ke Sekolah Sabat setiap hari Sabtu.
Esther menyukai Sekolah Sabat. Ia menikmati program Alive in Jesus, dan semakin dekat dengan Yesus.
Namun, pergi ke gereja tidaklah mudah. Ibunya tidak suka Esther pergi ke gereja setiap Sabat. Ia sudah berhenti ke gereja sejak menikah dengan pria yang bukan Advent. Ia takut ayah Esther akan marah jika Esther terus pergi.
Tetapi Esther tetap pergi. Suatu Sabat, Esther berkata kepada gurunya bahwa ia berharap ibunya bisa ikut ke gereja.
"Aku tidak mengerti mengapa ibu berhenti pergi ke gereja," katanya.
Guru mendorongnya untuk berdoa dan percaya bahwa Yesus bisa membawa ibunya kembali.
"Masih ada Seseorang yang bisa membawanya kembali ke gereja," kata guru. "Kita percaya kepada Yesus. Kamu juga harus percaya kepada-Nya. Itu akan menolong ibumu kembali kepada-Nya."
Esther percaya bahwa Yesus mendengar doanya. Ia terus belajar tentang Yesus di Sekolah Sabat dan membaca Alkitab di rumah.
Suatu Sabat, ia berkata kepada gurunya, "Aku sudah siap untuk dibaptis." Guru sangat senang!
Pada hari baptisan, Esther mengundang ibunya untuk datang dan menyaksikan. Ia berharap hati ibu akan tersentuh ketika melihat putrinya menyerahkan hidup kepada Yesus. Ia berharap ibu juga ingin pergi ke gereja setiap Sabat.
Ibu datang ke baptisan itu dan bertemu guru Sekolah Sabat di sana. Mereka berbincang cukup lama. Guru Sekolah Sabat mendorong ibu untuk mempertimbangkan datang ke gereja setiap Sabat.
Kemudian Esther dibaptis. Ibu menyaksikan saat Esther dibenamkan ke dalam air lalu muncul kembali dengan senyum lebar di wajahnya.
Saat itu juga, hati ibu terasa perih. Ia berbisik kepada guru yang berdiri di dekatnya, "Aku sangat menyesal karena telah meninggalkan Allahku."
Sekarang, ibu sedang mempelajari Alkitab bersama Guru Sekolah Sabat tersebut. Esther berharap ibunya segera kembali ke gereja.
Berdoalah agar ibunya Esther kembali kepada Yesus. Berdoalah juga bagi banyak anak dan orang tua di Tanzania yang belum pergi ke gereja. Salah satu proyek misi triwulan ini adalah Klinik Advent di Zanzibar, sebuah klinik di sebuah pulau di Tanzania di mana banyak anak dan orang tua tidak mengenal gereja. Terima kasih atas persembahan Anda yang murah hati untuk proyek penting ini.