Berita Misi Anak, 15 Agustus 2026.

Tamia dari Austria.
Tip Cerita:
* Tunjukkan Austria di peta, lalu tunjukkan Braunau, sebuah kota di perbatasan utara dekat Jerman, tempat sekolah Bogenhofen berada.
* Tonton video mengenai Tamia, yang kini berusia 12 tahun, di YouTube: bit.ly/Tamia-EUD.
CERITA:
Siang hari itu sangat panas di Austria ketika ibu tanpa sengaja mengunci Tamia yang masih kecil di dalam mobil di area parkir sebuah supermarket.
Tentu saja, ibu tidak berniat meninggalkan Tamia yang masih berusia 18 bulan terkunci di dalam mobil. Ia hanya pergi untuk berbelanja bahan makanan dan mengisi kulkas di rumah. Dalam daftar belanjaannya ada roti, susu, serta banyak sayur dan buah-buahan segar.
Setelah berbelanja, Tamia duduk di keranjang belanja sementara ibu memasukkan belanjaan ke bagasi. Setelah selesai, ibu mengembalikan keranjang ke supermarket, lalu mengangkat Tamia dan membawanya ke mobil. Ia membuka pintu belakang dan meletakkan Tamia di kursi khusus anak.
Untuk mengencangkan sabuk pengaman Tamia, ibu memerlukan kedua tangannya. Jadi ia meletakkan kunci mobil di kursi depan.
Mungkin tanpa sadar, tombol kunci otomatis tertekan, atau mungkin tombol itu tertindih ketika kunci jatuh ke kursi. Tidak ada yang tahu pasti.
Namun begitu ibu menutup pintu belakang dan mencoba membuka pintu depan, ia terkejut—semua pintu terkunci!
Ia tidak bisa membuka pintu depan, tidak bisa membuka pintu belakang, bahkan bagasi pun terkunci.
Saat itu ibu baru ingat bahwa tas dan ponselnya ada di bagasi, bersama dengan uangnya.
Semua terkunci di dalam mobil—termasuk yang paling penting, Tamia kecilnya.
Dengan panik, ibu berlari kembali ke dalam supermarket.
Ia hanya hafal satu nomor telepon, yaitu nomor nenek Tamia. Ibu meminta izin kepada seorang pegawai supermarket untuk meminjam ponsel.
Pegawai itu dengan ramah meminjamkan ponselnya, dan ibu segera menelepon nenek. Dengan suara cemas ia menjelaskan apa yang terjadi dan meminta nenek menghubungi ayah.
Namun ternyata, ayah sedang berada di luar kota.
Meski begitu, ayah tetap berusaha membantu. Ia menelepon layanan bantuan jalan (roadside assistance). Tetapi petugas mengatakan mereka baru bisa datang lebih dari satu jam lagi.
Ibu sangat putus asa. Hari itu panas sekali, dan Tamia mulai memerah karena kepanasan di dalam mobil. Ia tidak mengerti mengapa begitu panas dan mengapa ibu tidak bersamanya. Ia menangis keras di balik jendela.
Ibu hanya bisa berdoa.
"Tuhan yang baik," katanya. "Tidak ada yang bisa menolong saya. Hanya Engkau yang bisa menolong. Saya benar-benar membutuhkan pertolongan-Mu saat ini."
Saat ibu membuka matanya, ia melihat sebuah mobil kuning masuk ke area parkir.
Biasanya, mobil bantuan jalan raya berwarna kuning. Banyak orang bahkan menyebut para pengemudinya sebagai "malaikat kuning" karena warna mobil mereka.
Ibu terkejut dan berharap—apakah ini malaikat kuning itu?
Ia memperhatikan lebih dekat. Ya! Mobil itu memang mobil bantuan jalan raya!
Ibu berlari ke arah mobil sambil berteriak, "Tolong! Saya butuh bantuan segera! Anak saya terkunci di dalam mobil!"
Seorang pria langsung keluar dari mobil kuning itu. Ia mengambil peralatannya dari bagasi dan segera menuju ke mobil ibu. Dalam beberapa menit saja, ia berhasil membuka kunci mobil dan menyelamatkan Tamia.
Tamia langsung tersenyum begitu melihat ibunya, dan ibu memeluknya erat dengan lega.
Kemudian pria itu berkata, "Saya sebenarnya hanya berhenti sebentar untuk membeli sandwich. Saya sedang dalam perjalanan menolong orang lain."
Pria itu berpikir bahwa satu-satunya alasan ia berhenti hanya untuk makan siang. Tetapi ibu tahu lebih dari itu.
Ia tahu bahwa Tuhanlah yang mengirimkan pria itu ke sana untuk menyelamatkan Tamia.
Ibu menatap pria itu dengan penuh syukur dan berkata, "Hari ini, Anda benar-benar malaikat kuning yang Tuhan kirim."
Terima kasih untuk Persembahan Sabat Ketiga Belas—yang juga dikenal sebagai Persembahan Proyek Misi Triwulanan—yang membantu anak-anak di Eropa belajar tentang Allah yang mendengar doa.
Sekarang, ibunya Tamia mengajar anak-anak di Bogenhofen, sebuah sekolah Advent di Austria yang pernah menerima sebagian dana persembahan Sabat Ketiga Belas sebelumnya.
Melalui pengalamannya, ia mengajarkan kepada anak-anak bahwa doa selalu dijawab oleh Tuhan, tepat pada waktunya.
Terima kasih karena sudah merencanakan persembahan yang murah hati pada triwulan ini.