Berita Misi Anak, 12 September 2026. 

Luca dari Rumania.



Tempat untuk Bernaung

Tip Cerita:
* Tunjukkan Rumania di peta.
* Ketahui bahwa nama ibu Luca adalah Mirela, dan kepala sekolahnya bernama Raluca. Keduanya dapat dilihat bersama Luca pada foto.
* Ibu Luca memiliki rambut pirang.
* Tonton video singkat Luca mengucapkan Doa Bapa Kami di YouTube: bit.ly/Luca-EUD.




CERITA: Sebagian anak kecil senang naik mobil besar. Sebagian lagi suka berkunjung ke kota besar.

Namun Luca, yang berusia lima tahun, tidak tertarik pada mobil besar atau kota besar. Suatu pagi hari Senin, ibu ingin mengajaknya naik mobil ke Bukarest, ibu kota Rumania. Tetapi Luca hanya ingin pergi ke taman kanak-kanak Advent.

Luca sangat menyukai sekolah Adventnya sekarang. Namun dulu, tidak selalu demikian.

Awalnya, ibu mendaftarkannya di taman kanak-kanak negeri saat ia berusia dua tahun.

Luca tidak menyukainya sama sekali. Saat itu, ia masih memakai popok karena belum bisa menggunakan toilet sendiri. Ia masih minum dari botol susu bayi, belum bisa memakai gelas.

Ia juga belum bisa bicara—hanya bisa mengucapkan "Mm, mmm, mmm."

Hari-harinya di taman kanak-kanak negeri sangat berat. Beberapa guru tidak mau mengganti popoknya. Yang lain enggan mengisi ulang botol susunya. Sebagian lagi tidak memahami apa yang ia maksud dengan gumamannya itu.

Ibu sangat sedih mendengar bagaimana Luca diperlakukan tidak baik. Ia menemui kepala sekolah dan memohon agar para guru-guru lebih baik kepada anaknya. Namun kepala sekolah tidak percaya dan menolak melakukan apa pun.

Akhirnya, ibu mulai mencari sekolah lain. Ia mengunjungi banyak taman kanak-kanak, tetapi tak satu pun mau menerima Luca. Mereka mengatakan Luca memiliki tantangan belajar, dan mereka tidak punya waktu untuk membantunya.

Ibu menjadi putus asa. Ia perlu bekerja agar mendapatkan uang untuk menghidupi dirinya dan Luca, tetapi tidak bisa bekerja jika harus menjaga Luca sepanjang hari di rumah.

Suatu hari, ia menemukan taman kanak-kanak Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di internet. Ia segera menemui kepala sekolah dan memohon dengan air mata mengalir di pipinya, dia berkata, "Tolong terimalah anak saya di sekolah ini. Saya mohon dari lubuk hati saya yang terdalam, tolong bantu saya."

Ia menjelaskan bahwa Luca memang memiliki beberapa kesulitan belajar.

Kepala sekolah melihat ketulusan hati sang ibu dan air mata yang mengalir di pipinya.

"Baiklah," kata kepala sekolah dengan lembut. "Mari kita coba. Ini akan menjadi anak pertama kami dengan tantangan belajar seperti ini. Kami belum pernah mengajar anak seperti dia sebelumnya, tetapi kami akan berusaha."

Ibu tersenyum lega meski pipinya masih basah dengan air mata. Ia lalu menunjuk seorang perempuan muda yang berdiri di sebelahnya.

"Ini keponakan saya," katanya. "Ia membantu saya mendaftarkan Luca."

Ibu tidak pernah bersekolah dan tidak bisa membaca atau menulis, tetapi keponakannya yang berusia 20 tahun bisa membantu mengisi formulir pendaftaran Luca ke taman kanak-kanak.

Sebulan kemudian, pada pagi yang cerah di bulan September, Luca datang untuk pertama kalinya ke taman kanak-kanak Advent itu. Ia sangat senang melihat anak-anak lain dan langsung bermain bersama mereka.

Ketika jam makan siang tiba, ibunya datang menjemput.

"Cukup untuk hari ini," katanya. "Besok kamu datang lagi, ya."

Namun Luca tidak mau pulang. Ia ingin tinggal dan bermain lebih lama. Ibu harus membujuknya agar mau pulang—sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Keesokan harinya, Luca belajar hingga pukul empat sore. Guru berkata, "Ia menyesuaikan diri dengan sangat baik."

Ibu sangat bahagia!

Pekan demi pekan, bulan demi bulan berlalu—dan Luca berkembang pesat. Ia berhenti memakai popok, saat ini menggunakan toilet sendiri, berhenti menggunakan botol susu, dan mulai minum dari gelas. Ia berhenti bergumam, "Mm, mmm, mmm" dan mulai berbicara. Ia bahkan belajar membaca dan menulis! Ibu sangat bersyukur. Anaknya belajar melakukan hal-hal yang bahkan tidak bisa ia lakukan sendiri.

Luca pun sangat bahagia. Ia begitu mencintai sekolahnya hingga sering meminta ibu mengantarnya juga pada hari Sabat dan Minggu—saat sekolah tutup. Jadi, ketika ibu berkata bahwa mereka harus pergi ke Bukarest naik mobil besar selama tiga setengah jam, Luca tidak senang—ia lebih memilih bermain di sekolah, belajar bahasa Inggris, bermain piano, dan mendengar cerita tentang Yesus.

Namun ibu menjelaskan bahwa mereka pergi ke Bukarest untuk bercerita tentang Taman Kanak-kanak Advent yang telah mengubah hidupnya. Barulah Luca mengerti. Ia tidak keberatan lagi menempuh perjalanan jauh dan melewatkan satu hari sekolah. Ia sangat mencintai sekolahnya—dan ingin seluruh dunia tahu tentangnya.

Sekolah-sekolah dan taman kanak-kanak Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh telah membawa perubahan besar dalam kehidupan banyak anak di Rumania. Sebagian dari Persembahan Sabat Ketiga Belas triwulan ini, juga dikenal sebagai Persembahan Proyek Misi Triwulanan, akan membantu dua sekolah lainnya di Rumania mengajarkan lebih banyak anak dan keluarga tentang Yesus.

Terima kasih karena telah merencanakan persembahan yang murah hati!




Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp