Berita Misi Anak, 11 April 2026.

Fabian dari Tanzania.
Nenek tidak tahu harus berbuat apa dengan Fabian, cucunya yang berusia sembilan tahun. Setiap pagi Fabian mengenakan seragam sekolah dan berkata bahwa ia akan pergi ke sekolah. Tetapi, ia malah bolos dan bermain bersama anak-anak lain yang juga tidak masuk sekolah, lalu pulang setelah jam sekolah berakhir.
Pada hari Sabat pagi, ia mengenakan pakaian terbaik dan pergi bersama nenek ke gereja. Tetapi, sesampainya di Sekolah Sabat, Fabian menghilang, dan tidak seorang pun melihatnya lagi sampai khotbah selesai.
Kadang-kadang Fabian bahkan tidak pulang ke rumah. Ia bisa menghilang selama tiga atau empat hari, dan tidak ada yang tahu ke mana ia pergi. Nenek terpaksa melapor ke polisi dan mengatakan bahwa cucunya hilang. Namun, beberapa hari kemudian Fabian pulang begitu saja seolah tidak ada yang salah, dan berkata bahwa ia sedang mengunjungi teman-temannya.
Nenek sangat khawatir. Ia tahu Fabian sedih karena ayahnya sudah meninggal dan ibunya tidak merawatnya. Nenek membesarkannya sejak ia berusia lima tahun. Ia ingin Fabian mengenal dan mengasihi Allah, karena ia percaya bahwa Allah mengenal dan mengasihi Fabian. Jadi, ia berdoa.
Kemudian, guru Sekolah Sabat memutuskan untuk menjadi sahabat Fabian. Ia memperhatikan bahwa Fabian jarang hadir di Sekolah Sabat, sehingga ia datang berkunjung ke rumahnya.
"Ayo datang ke Sekolah Sabat minggu depan," katanya.
Fabian pun datang ke Sekolah Sabat pekan berikutnya. Lalu ia datang, dan berikutnya lagi. Ia mulai senang belajar tentang Yesus, dan ia menikmati kegiatan dalam program Alive in Jesus di Sekolah Sabat. Guru memberinya tugas rumah untuk dikerjakan selama sepekan. Fabian mengerjakannya dan mengumpulkannya pada hari Sabat.
Suatu hari, Fabian bertanya kepada nenek apakah ia boleh memimpin ibadah keluarga malam itu. Nenek terkejut. Fabian belum pernah meminta hal itu sebelumnya. Ia merasa ragu apakah cucunya bisa melakukannya.
"Aku bisa melakukannya dengan baik," kata Fabian meyakinkan. "Percayalah padaku."
Tidak banyak orang percaya kepada Fabian, karena selama ini ia terkenal nakal. Tetapi nenek memutuskan untuk percaya padanya.
"Baiklah, kamu boleh memimpin ibadah keluarga," kata Nenek. Senyum cerah muncul di wajah Fabian.
Malam itu, ia membuka Alkitab dan membaca bahwa Abraham adalah sahabat Allah. Ia membaca, "Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Karena itu Abraham disebut: 'Sahabat Allah"" (Yakobus 2: 23). Kemudian ia membuka buku Para Nabi dan Bapa dan membaca lebih banyak tentang bagaimana Abraham adalah sahabat Allah.
Nenek mendengarkan dengan heran ketika Fabian berkata, "Aku juga ingin menjadi sahabat Allah. Aku percaya kepada Allah, dan aku ingin taat kepada-Nya."
Lalu ia berdoa. Doanya berbeda dengan doa-doa yang pernah didengar nenek sebelumnya. Fabian mengakui semua dosanya dengan suara keras. Ia menceritakan kepada Allah tentang banyak hal buruk yang bahkan nenek tidak tahu pernah ia lakukan. Ia memohon kepada Allah agar mengampuni dan menjadikannya anak yang baik. "Mulai hari ini, aku menyerahkan hidupku kepada Yesus Kristus," katanya. "Aku ingin menjadi seperti guru Sekolah Sabatku yang mengajarkanku menjadi anak yang lebih baik. Aku juga ingin mengajarkan anak-anak lain menjadi baik, seperti yang guruku lakukan untukku. Tuhan, tolonglah aku mulai sekarang. Aku ingin menjadi anak yang baik. Dalam nama Yesus, Amin."
Hari itu menjadi titik balik dalam hidup Fabian. Ia mulai berdoa dan membaca Alkitab setiap hari untuk semakin dekat dengan Allah. Ia lebih sering menghabiskan waktu bersama nenek dan orang-orang baik yang mengasihi Allah. Ia tidak pernah absen ke gereja lagi. Anak yang dulu paling jarang terlihat di gereja kini justru menjadi yang paling rajin hadir. Bahkan, ia membawa seorang temannya ke gereja.
Perubahan Fabian begitu besar sehingga Nenek datang ke kelas Sekolah Sabatnya untuk mendengarkan apa yang ia pelajari.
Hari ini, Fabian berusia 10 tahun. Tentang dirinya bisa dikatakan, "Ia percaya kepada Allah, maka hal itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. Dan ia disebut sahabat Allah."
Misionaris pertama di wilayah yang kelak menjadi Tanzania adalah dua orang Jerman, A.C. Enns dan Johannes Ehlers, pada tahun 1903. Enns adalah seorang tukang kebun sayur, sedangkan Ehlers pernah bekerja sebagai tukang cat bangunan untuk Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Jerman. Pada November 1903, Enns dan Ehlers mengirim pesan bahwa mereka telah tiba dengan selamat dan gubernur Jerman telah memberikan wilayah Pare kepada mereka untuk bekerja. Di Giti, mereka membeli 25 are (10 hektar) tanah dari Kepala Sekimanga untuk membuka pos misionaris.