Berita Misi Anak, 10 Oktober 2026. 

Lucjica dari Kroasia.



Berani untuk Yesus

Lucjica tinggal bersama ibunya di Kroasia. Ibunya percaya kepada Tuhan, tetapi tidak rutin pergi ke gereja. Namun sejak usia enam tahun, setiap Sabat Lucjica selalu pergi ke gereja bersama nenek dan kakeknya.

"Nenekku mengajarkan semuanya tentang Yesus," kata Lucjica. "Dia menunjukkan bagaimana hidup sehat, bagaimana memilih tontonan yang baik, dan bagaimana mengikuti aturan Tuhan."

Neneknya membacakan Alkitab dan juga buku-buku tulisan Ellen G. White. Sejak berusia dua tahun, Lucjica sudah mendengarkan cerita-cerita Alkitab. Salah satu yang paling ia sukai adalah kisah Ratu Ester-seorang wanita muda yang berani membela bangsanya.

Lucjica pun belajar untuk menjadi berani.

Ayat Alkitab favoritnya adalah Filipi 4:13: "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." Ia berkata bahwa ia merasa aman saat berdoa. Ia berdoa tentang nilai sekolah. Ia berdoa tentang masalah di rumah. Ia berdoa saat merasa ragu.

Dan Tuhan menjawab doanya.

Di gereja, ia sangat menyukai Sekolah Sabat. Ia terdaftar di kelas 5-8. Mereka belajar Alkitab, berdoa bersama, dan belajar untuk mengampuni, bersikap baik, serta tidak menghakimi orang lain. "Itu sangat penting," katanya. "Terutama untuk kesehatan mental anak-anak."

Ia juga sangat menyukai kegiatan Pathfinder. Mereka berkumpul setiap hari Minggu: kadang di gereja, kadang di taman. Ia menikmati berkemah, berada di alam terbuka, dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya.

Namun, salah satu momen paling berani dalam hidupnya tidak terjadi di gereja, melainkan di sekolah.

Lucjica adalah satu-satunya anggota Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di kelasnya. Semua 22 teman sekelasnya berasal dari agama lain. Suatu hari, ia berbicara dengan gurunya tentang keyakinannya. Ia menjelaskan apa yang dipercaya oleh orang Advent tentang Sabat, tentang berdoa langsung kepada Tuhan, dan tentang memilih makanan yang sehat.

Alih-alih mengkritiknya, gurunya justru membuatnya terkejut. "Maukah kamu membuat presentasi di depan kelas tentang agamamu?" tanya gurunya.

Lucjica setuju. Ia tidak takut. "Tuhan menyertaiku," katanya dengan sederhana.

Dalam presentasinya, ia menjelaskan mengapa orang Advent tidak makan daging babi. Ia menunjukkan apa yang Alkitab katakan tentang Sabat. Ia juga menjelaskan bahwa orang Advent tidak berdoa kepada orang-orang kudus, melainkan berbicara langsung kepada Tuhan.

Teman-teman sekelasnya terdiam. Mereka mendengarkan dengan saksama. Banyak dari mereka belum pernah mendengar hal-hal itu sebelumnya.

Ketika ia selesai, gurunya memberinya dua nilai "A" atas pekerjaannya. Namun, yang lebih penting daripada nilai itu adalah sesuatu yang lain: keberanian.

"Jarang sekali anak-anak muda di sini mengetahui banyak tentang Alkitab," katanya. "Karena itu, aku ingin membagikan keyakinanku kepada semua orang."

Lucjica tahu bahwa menjadi berbeda itu tidak mudah. "Tidak selalu ada teman sejati di sekolah," katanya. "Jadi, kami belajar untuk berani. Kami [teman-teman di gereja] saling mendukung."

Imannya tidak ditunjukkan dengan cara yang berlebihan atau mencari perhatian. Imannya teguh. Imannya berakar kuat. Ia diajar oleh seorang nenek yang sangat mengasihi Yesus-dan oleh Tuhan yang menjawab doa.

Sebagian dari Persembahan Sabat Ketiga Belas pada triwulan ini akan membantu membangun kembali Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Prilaz di Kroasia, yang rusak parah akibat gempa bumi. Gedung gereja yang baru akan memberikan tempat yang aman bagi anak-anak dan kaum muda seperti Lucjica untuk beribadah, belajar, berdoa, dan bertumbuh kuat dalam iman mereka.

Mari kita memberi dengan murah hati agar lebih banyak anak laki-laki dan perempuan dapat berani bagi Yesus.




Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp