Berita Misi Advent, 25 Juli 2026.

Enoc dari Spanyol.
TIPS CERITA:
*Tunjukkan Spanyol pada peta, lalu tunjuk Sagunto, sebuah kota dekat Valencia di pantai timur.
*Sagunto menerima dana persembahan triwulan pertama tahun 2020 untuk pengembangan departemen teologi, dan persembahan sebelumnya membantu membangun asrama putri.
*Ucapkan Enoc sama seperti nama alkitabiah "Henokh."
*Tonton video Enoc berbahasa Inggris di: bit.ly/Enoc-E-EUD
*Tonton video Enoc berbahasa Spanyol di: bit.ly/Enoc-S-EUD
Catatan: Sebagian dari Persembahan Sabat Ketiga Belas sebelumnya telah digunakan untuk mengembangkan departemen teologi di Sagunto Adventist College, tempat Enoc kini belajar. Persembahan lainnya juga membantu membangun asrama putri, tempat Ingrid sekarang bekerja. Sama seperti persembahan-persembahan itu telah mengubahkan hidup Enoc dan Ingrid, persembahan Anda triwulan ini akan membantu membentuk lebih banyak kehidupan untuk kekekalan. Terima kasih atas dukungan murah hati Anda bagi proyek misi di Divisi Inter-Eropa, termasuk Spanyol.
CERITA:
Enoc merasa hidupnya seperti mimpi indah di Spanyol. Ia memiliki klinik fisioterapi bersama seorang rekan bisnis di Barcelona, dan telah menikmati pekerjaannya selama lebih dari 20 tahun. Istrinya, Ingrid, juga bekerja sebagai fisioterapis di panti jompo Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Mereka memiliki dua anak laki-laki dan hidup dengan nyaman.
Namun, di tengah semua keberhasilan itu, Enoc mulai merasakan dorongan kuat untuk menjadi pendeta Advent. Ia sendiri tidak mengerti mengapa.
Ia tidak ingin Tuhan mengira bahwa ia tidak bersyukur atas karier yang telah diberkati-Nya. Ia berpikir, "Aku tidak bisa berkata, 'Terima kasih atas semua berkat-Mu, Tuhan, tetapi sekarang aku ingin jadi pendeta.'"
Karena itu, ia tidak pernah berdoa tentang keinginan itu—bahkan tidak memberitahukannya kepada Ingrid.
Kemudian pandemi COVID-19 melanda. Ia dan rekan bisnisnya harus menutup klinik selama tiga pekan. Ketika mereka buka kembali, keinginan Enoc untuk menjadi pendeta justru semakin kuat.
Ia merasa tidak cukup melakukan sesuatu untuk Tuhan. Kadang ia berbicara tentang Yesus kepada pasien dan mendoakan mereka, tetapi tidak semua orang mau mendengar tentang Allah.
Enoc rindu untuk selalu bisa berbicara tentang Yesus sepanjang waktu. Ia mulai merasa bahwa menjadi fisioterapis saja tidak lagi cukup.
Bagian terbaik dari hari-harinya adalah waktu pribadinya bersama Tuhan. Ia menikmati saat teduh pagi dan belajar Alkitab pribadi. Menariknya, apa pun yang ia baca di pagi hari, sering kali menjadi pesan yang tepat untuk pasiennya hari itu. Beberapa pasien bahkan mulai memintanya berdoa bagi mereka.
Namun Enoc masih tetap tidak berani berdoa tentang keinginannya menjadi pendeta.
Ia berpikir, "Aku harus melakukan kehendak Tuhan, dan memang kehendak-Nya dulu yang membuatku jadi fisioterapis."
Tetapi setiap malam, sepulang kerja, ia hanya menceritakan kepada Ingrid tentang percakapan rohani dan doa bersama para pasien. Akhirnya, Ingrid berkata, "Aku harus memberitahumu sesuatu. Tuhan menaruh dalam hatiku bahwa engkau harus pergi ke Sagunto untuk belajar teologi dan menjadi pendeta."
Sagunto Adventist College adalah tempat pendidikan bagi calon pendeta di Spanyol. Ketika Enoc mendengar kata-kata istrinya—yang persis sama dengan isi hatinya selama ini—ia merasa itu mustahil. Ia berkata, "Aku punya bisnis. Kita mencintai Barcelona. Anak-anak kita bersekolah di sekolah Advent di sini. Kalau memang itu kehendak Tuhan—bukan hanya keinginanku—Dia akan menunjukkannya."
Namun Ingrid tidak menyerah. Setiap pekan ia mengingatkan, "Tuhan terus menaruh dalam hatiku bahwa kita harus pergi ke Sagunto." Dan setiap kali, Enoc menjawab, "Itu tidak mungkin. Kita butuh rumah, pekerjaan, dan sekolah baru untuk anak-anak. Jangan buang-buang waktu memikirkannya."
Suatu hari, Enoc menceritakan pergumulannya kepada iparnya, yang adalah seorang pendeta.
Ia sebenarnya tidak berniat membahasnya, tetapi kata-kata itu keluar begitu saja.
Sang ipar berjanji untuk berdoa baginya dan berkata, "Kalau itu memang kehendak Tuhan, Dia pasti akan menunjukkannya."
Beberapa waktu kemudian, ayah Ingrid meninggal dunia. Keluarga mereka mulai mempertimbangkan untuk pindah agar lebih dekat dengan ibunya. Enoc dan Ingrid berdoa, "Tuhan, apakah kami harus tetap di Barcelona, pindah untuk membantu ibu, atau pergi ke Sagunto?"
Ingrid mengirimkan lamaran kerja ke beberapa tempat di kota asal ayahnya, tetapi tidak ada jawaban. Sementara itu, klinik fisioterapi Enoc di Barcelona justru semakin maju. Ia dan rekan bisnisnya bahkan berencana membeli properti di sebelah untuk memperluas usaha. Saat mereka sedang menyelesaikan dokumen pembelian, tiba-tiba rekan bisnisnya bertanya, "Kenapa kamu tidak jadi pendeta?"
Enoc terkejut. "Apa maksudmu?" ia bertanya.
"Aku melihat caramu berbicara tentang Yesus kepada pasien," kata rekannya. "Kamu jelas mencintai hal itu. Jadi kenapa kamu tidak jadi pendeta?"
Tidak lama kemudian, Enoc dan keluarganya sudah berada di Sagunto Adventist College—tempat ia kini belajar teologi untuk menjadi pendeta. Semua itu bukan rencana mereka, tetapi rencana Tuhan.
Bacalah kisah selanjutnya Sabat depan dalam "Mimpi Enoc, Bagian 2."