Berita Misi Advent, 19 September 2026.

Camelia dari Rumania.
TIPS CERITA:
* Tunjukkan letak Rumania di peta, kemudian tunjuk kota Macea, tempat sekolah ini berada.
* Ketahuilah bahwa sekolah Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Macea berdiri pada tahun 2011, dengan 72 siswa dan anak prasekolah pada tahun 2025, serta memiliki tujuh guru penuh waktu.
Catatan editor: Kisah misi Sabat ini berasal dari Sekolah Dasar Advent di Macea, Rumania, yang akan menerima sebagian dari Persembahan Sabat Ketiga Belas triwulan ini, yang juga dikenal sebagai Persembahan Proyek Misi Triwulanan.
CERITA:
Ketika seorang ibu datang ke kantor kepala sekolah di Sekolah Dasar Advent Hari Ketujuh di Macea, Rumania, pikirannya sudah bulat.
"Saya datang untuk mengeluarkan anak saya dari sekolah ini," katanya. "Saya akan bercerai dengan suami saya, dan kami sudah pindah ke kota lain. Perjalanan dari rumah baru kami ke sekolah ini terlalu jauh." Kepala sekolah, Camelia, merasa sedih mendengar bahwa sang ibu ingin memindahkan Antonio, putranya yang berusia delapan tahun, ke sekolah negeri. Dalam hatinya, ia merasa tergerak untuk bertanya sesuatu.
"Bisakah ibu datang lagi bersama suami Anda?" tanyanya lembut.
Beberapa waktu kemudian, ibu itu datang kembali bersama ayah Antonio.
Camelia berbicara dengan lembut, "Perceraian adalah kerugian besar. Antonio akan kehilangan orang tuanya, dan ia juga akan kehilangan sekolahnya."
Sang ibu sangat kecewa dengan keadaan pernikahannya dan bersikeras untuk bercerai. Namun sang ayah tampak masih ingin mempertahankan rumah tangga mereka.
Camelia tahu bahwa keduanya jarang ke gereja, jadi ia berbicara berdasarkan Alkitab. Ia menjelaskan bahwa Allah yang menciptakan pernikahan di Taman Eden dan Ia tidak menghendaki perceraian. Ia mengutip perkataan Yesus, "Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Matius 19:6).
"Perceraian bukan bagian dari rencana Allah," ujar Camelia. "Itu adalah rencana Iblis karena ia ingin menghancurkan keluarga. Ia tahu bahwa orang tua yang bercerai akan sangat kesulitan menghadapi tantangan hidup sendirian." Kedua orang tua itu mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Saya punya ide," lanjut Camelia. "Daripada bertengkar, cobalah saling mengatakan hal-hal yang kalian hargai dari satu sama lain. Pikirkan, apa yang ibu sukai dari suami ibu? Dan bapak, apa yang bapak sukai dari istri bapak?"
Sang ibu akhirnya setuju untuk menunda keputusan memindahkan Antonio.
Namun beberapa hari kemudian, setelah bertengkar lagi, ia datang dengan marah ke kantor kepala sekolah. "Suami saya tidak punya pekerjaan," katanya keras. "Ia tidak punya cukup uang untuk menafkahi keluarga. Ia tidak peduli pada kami!" Camelia memahami kekhawatiran ibu itu, tetapi dengan lembut menasihatinya agar bersabar. Di daerah itu memang sulit mencari pekerjaan. Ibu itu mulai menyadari bahwa perkataan Camelia masuk akal, dan perlahan hatinya mulai melunak. Beberapa waktu kemudian, sang ayah yang menelepon Camelia. "Istri saya terus berkata bahwa saya tidak punya cukup uang dan tidak mau berusaha untuk keluarga," keluhnya.
Camelia mendorongnya agar tetap berusaha. "Bapak harus mencari pekerjaan," katanya. "Tunjukkan bahwa Bapak berkomitmen untuk keluarga."
"Kenapa saya harus bekerja hanya karena dia yang menyuruh?" tanya sang ayah.
"Karena istri bapak benar," jawab Camelia tegas namun lembut. "Kalian punya anak yang harus dibesarkan. Itu tanggung jawab bapak."
Demikianlah yang terjadi selama berbulan-bulan. Setiap kali pasangan itu bertengkar, sang ibu datang ke sekolah, dan sang ayah menelepon. Camelia terus menasihati ibu agar bersabar, dan ayah agar tekun mencari pekerjaan. Di sela-sela pertengkaran, mereka mulai mempraktikkan saran Camelia: saling mengucapkan hal-hal baik di rumah.
Akhirnya, sang ayah mendapat pekerjaan di Prancis. Ia pindah ke sana dan mulai mengirimkan uang untuk keluarganya di Rumania. Sang ibu puas, tetapi lama-kelamaan ia mulai merindukan suaminya. Pria yang dulu ingin ia ceraikan kini menjadi sahabat baiknya. Dua tahun kemudian, ketika Antonio berusia 10 tahun, sang ibu memutuskan untuk pindah ke Prancis agar keluarga bisa bersatu kembali.
Selama di Prancis, keluarga itu tetap berhubungan dengan Camelia. Antonio sering menelepon karena merindukan kepala sekolahnya. Dari percakapan mereka, Camelia tahu bahwa keluarga itu sudah menemukan gereja Advent di Prancis dan mulai beribadah bersama. Mereka tidak hanya semakin dekat satu sama lain, tetapi juga semakin dekat dengan Tuhan.
Beberapa tahun kemudian, keluarga itu kembali ke Rumania. Antonio masuk sekolah negeri karena sekolah Advent di Macea hanya menyediakan pendidikan sampai kelas empat. Namun, hubungan mereka dengan Camelia tetap hangat.
Setiap kali bertemu di kota, sang ayah selalu tersenyum dan berkata, "Terima kasih, Bu Camelia. Karena ibu, saya tidak kehilangan keluarga saya."
Sebagian dari Persembahan Sabat Ketiga Belas triwulan ini akan membantu Sekolah Dasar Advent di Macea, Rumania, untuk memperluas fasilitasnya agar dapat menampung lebih banyak anak.
Terima kasih atas rencana Anda untuk memberikan persembahan yang murah hati.