Berita Misi Advent, 18 Juli 2026.

Albert dan Ligia dari Spanyol.
TIPS CERITA:
* Tunjukkan Spanyol di peta, lalu tunjuk Sagunto, dekat Valencia, tempat Sagunto Adventist College berada.
* Kampus ini menerima sebagian persembahan triwulan pertama tahun 2020 untuk pengembangan departemen teologi.
* Ucapkan Ligia dengan pengucapan: LEE-hee-a.
* Kunjungi situs web mereka: elcieloalatierra.com
CERITA:
Petunjuk untuk Pemimpin Sekolah Sabat: Mintalah dua orang, seorang pria dan seorang wanita, untuk membawakan kisah misi pekan ini. Mereka dapat bergantian menceritakan pengalaman Albert (40 tahun) dan Ligia (39 tahun).
Ligia: Saya lahir dalam keluarga Advent di Venezuela dan tumbuh dengan berbagai ajaran serta pengalaman rohani tentang Allah. Namun, ketika usia 22 tahun, saya meninggalkan gereja dan masuk ke dunia hiburan dan mode. Selama bertahun-tahun saya menjadi model di berbagai ajang kecantikan, seperti Miss Venezuela, Miss Hawaiian Tropic, dan Miss Hispano. Saya juga bekerja di televisi, film, dan teater, tampil di majalah serta katalog mode, dan bahkan memiliki beberapa bisnis. Kehidupan saya tampak sempurna di luar, tetapi di dalam hati, saya merasa hampa.
Albert: Saya dibesarkan di sebuah kota kecil sekitar 120 kilometer dari Barcelona, Spanyol. Keluarga saya memiliki latar belakang keagamaan tertentu, tetapi karena iman bukan bagian utama dalam kehidupan sehari-hari, saya tumbuh di lingkungan yang hampir agnostik. Sejak kecil saya sering bertanya tentang makna hidup dan kematian. Saya mencari jawaban dalam berbagai agama dunia, tetapi tidak pernah membayangkan bahwa kebenaran yang saya rindukan bisa ditemukan dalam Alkitab. Saya menyukai arsitektur, budaya, perjalanan, penemuan, dan sejarah.
Namun hidup saya penuh pesta dan hubungan tanpa makna—dan semua itu meninggalkan kekosongan yang dalam.
Ligia: Saya juga banyak bepergian ke berbagai negara. Walaupun hidup saya jauh dari Tuhan, di lubuk hati saya tahu bahwa saya tidak benar-benar cocok di dunia hiburan. Saya tahu Tuhan masih melindungi saya, tetapi saya berpikir kembali kepada-Nya adalah hal yang mustahil. Akhir pekan saya selalu dipenuhi dengan acara, dan hidup saya jauh dari apa yang Tuhan inginkan untuk saya.
Setelah beberapa hubungan yang gagal, termasuk satu yang sangat menyakitkan, saya membuat keputusan besar. Saya meninggalkan karier dan bisnis saya. Selama ini, identitas saya terikat pada dunia hiburan—dan ketika saya meninggalkannya, saya tidak tahu siapa diri saya.
Saya tinggal di Spanyol waktu itu. Kesedihan membuat saya mulai mencari jawaban dalam buku-buku pengembangan diri. Dalam proses itu, saya membuat daftar syarat mutlak untuk calon suami saya kelak. Nomor satu di daftar itu berbunyi: "Dia harus percaya kepada Tuhan."
Albert: Setelah bertahun-tahun hidup dalam pesta dan pencarian yang salah arah, saya sampai di titik kehampaan total. Saya sadar hidup saya butuh makna baru. Saya menjadi sangat sedih—dan hati saya siap untuk sesuatu yang berbeda. Di saat itulah jalan kami bertemu. Ketika kami bertemu, kami langsung merasa terhubung. Yang mengejutkan, pembicaraan kami secara alami beralih ke topik tentang iman.
Ligia: Pada kencan kedua, saya memperdengarkan lagu dari seorang penyanyi Advent terkenal di Spanyol. Saya belum pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya. Albert terlihat terkejut dan heran, tetapi tidak berkata apa-apa tentang itu.
Pembicaraan kami menjadi semakin mendalam. Albert mulai menemukan Allah, sementara saya menemukan kembali Allah—bukan hanya lewat tradisi, tetapi lewat pengalaman pribadi.
Albert: Kami sering menangis, berbicara, dan tertawa bersama di malam hari—mencoba memahami bagaimana Tuhan menuntun kami sampai di titik itu. Bagi Ligia, saya seperti pulang ke rumah. Bagi saya, itu adalah awal dari kenyataan baru yang tidak pernah saya bayangkan.
Menemukan Allah dalam Alkitab terasa amat menarik—tetapi akhirnya menjadi kebenaran terindah yang pernah saya temukan.
Ligia: Kami menyadari bahwa hubungan kami bukan hanya antara dua orang, tetapi antara tiga: Albert, saya, dan Tuhan. Sejak awal, Tuhanlah pusat hubungan kami, menuntun setiap langkah. Ketika kami menyadari bahwa Dia punya tujuan dalam hidup kami, kami memutuskan untuk bertunangan.
Albert: Kami kemudian dibaptis dan menikah. Kami sadar bahwa semua pengalaman hidup kami bukan terjadi secara kebetulan. Segala hal yang dulu membuat kami merasa hampa kini digantikan oleh kasih Tuhan. Kami belajar bahwa kesuksesan duniawi, pesta, dan hubungan dangkal tidak akan pernah mengisi kekosongan hati—hanya Tuhan yang bisa melakukannya.
Ligia: Tuhan telah menyelamatkan kami dari dunia yang penuh kepalsuan. Sekarang, kami mendedikasikan hidup kami untuk melayani-Nya—menolong orang lain menemukan kasih yang mengubah hidup, sama seperti yang kami alami.
Albert: Hari ini kami berjalan bersama, yakin bahwa Tuhanlah yang menuntun dan berjalan di depan kami. Misi kami adalah membagikan pekabaran pengharapan kepada mereka yang, seperti kami dulu, mencari makna hidup.
Ligia: Itulah kisah kami—dari dunia yang gelap, kembali ke pelukan Allah.
Narator: Kini, Albert sedang menempuh program magister dalam bidang iman dan ilmu pengetahuan di Sagunto Adventist College di Spanyol, agar ia dan Ligia dapat lebih efektif membagikan Allah kepada kalangan sekuler.
Umat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh dari seluruh dunia turut membantu mewujudkan studi ini. Sebagian dari Persembahan Sabat Ketiga Belas sebelumnya telah digunakan untuk mengembangkan departemen teologi.
Terima kasih atas persembahan Anda triwulan ini, yang akan mendukung proyek-proyek baru guna menyebarkan Injil di negara-negara sekuler di Eropa, termasuk Spanyol.