Berita Misi Advent, 11 Juli 2026.

Yvonne dari Austria.
TIPS CERITA:
*Tunjukkan Austria di peta, lalu tunjuk Braunau, dekat perbatasan utara dengan Jerman, tempat Bogenhofen berada.
*Ketahui bahwa Yvonne Seidel telah menjadi bagian penting dari sejarah Bogenhofen. Ia berasal dari Rumania dan pernah membuka sekolah dasar pertama di kampus Bogenhofen pada usia 22 tahun (dimulai dengan enam siswa, kini lebih dari 100 siswa); menjadi kepala asrama putri dan pembina rohani (chaplain) di sekolah dan seminari tersebut; serta pada tahun 2017 membantu membuka sekolah pendidikan (school of education) untuk melatih guru-guru Advent di Eropa.
Catatan Editor: Kisah misi Sabat ini terjadi di dalam gedung asrama putri di Bogenhofen, sebuah sekolah Advent di Austria yang dibangun dengan bantuan Persembahan Sabat Ketiga Belas sebelumnya, yang juga dikenal sebagai Persembahan Proyek Misi Triwulanan.
CERITA:
Yvonne, seorang kepala asrama putri di Bogenhofen, sangat menghargai peraturan sekolah yang membatasi penggunaan ponsel bagi para remaja hingga 45 menit setiap hari. Ia telah melihat betapa kecanduan ponsel bisa memengaruhi kehidupan anak muda, dan ia menyadari bahwa aturan ini mendorong para siswa untuk berinteraksi lebih banyak secara langsung—berbicara, tertawa, dan melakukan kegiatan menyenangkan seperti mengayuh perahu di sungai kecil di kampus.
Namun, Yvonne juga tahu bahwa setiap ada aturan, pasti selalu ada siswa yang mencoba melanggarnya. Ia menduga beberapa siswi memiliki ponsel kedua, disembunyikan setelah menyerahkan ponsel utama mereka. Tetapi selama ia tidak melihatnya sendiri, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Suatu hari, beberapa siswi jatuh sakit dan beristirahat di kamar masing-masing. Malam harinya, Yvonne membawakan mereka teh herbal hangat. Ketika ia masuk ke kamar salah satu siswi berusia 16 tahun, ia merasa ada sesuatu yang aneh.
Untuk masuk ke kamar itu, Yvonne harus melewati dua pintu—pintu luar dan pintu dalam.
Ia mengetuk pintu luar dan membukanya. Dari balik pintu dalam, ia mendengar suara sesuatu bergerak. Ia sejenak merasa curiga, lalu membuka pintu kedua. Namun, tidak ada yang tampak mencurigakan. Gadis itu sedang berbaring di tempat tidur. Ia berterima kasih atas teh yang dibawakan Yvonne dan bertanya,
"Kapan Ibu akan tidur? Apakah Ibu akan memeriksa saya lagi nanti malam?"
Yvonne berpikir dalam hati, "Pertanyaan yang menarik …"
Setelah memeriksa kamar-kamar lainnya, sekitar sepuluh menit kemudian, Yvonne kembali ke kamar gadis itu tanpa pemberitahuan. Ketika ia membuka pintu luar dan masuk, ia melihat gadis itu cepat-cepat menyembunyikan sesuatu di bawah selimutnya.
Kini Yvonne yakin ada yang tidak beres. Tetapi apa yang harus ia lakukan?
Malam itu di rumah, ia berdoa dengan sungguh-sungguh. "Tuhan, tolong saya supaya bisa menolong anak ini."
Pukul empat dini hari, Yvonne terbangun dengan perasaan kuat bahwa ia harus kembali ke kamar gadis itu. Ia berpikir, "Mengapa? Dia sedang tidur. Aku hanya akan membangunkannya."
Tetapi ada bisikan lembut di hatinya, "Mungkin ia sedang sakit."
Yvonne pun bangkit, berjalan ke kamar gadis itu, dan membuka pintu luar. Dari bawah pintu dalam, terlihat cahaya. Ketika ia membukanya, ia melihat gadis itu sedang duduk di tempat tidur, menatap ponselnya.
Dengan tenang, Yvonne menutup kembali pintu itu dan pergi ke kantornya. Di sana, ia berlutut dan berdoa.
"Tuhan, apa yang harus saya lakukan?"
Kali ini, ia merasa tergerak untuk berbicara langsung dengan gadis itu. Yvonne kembali ke kamarnya dan menghabiskan dua jam berbincang dengan siswi tersebut.
Di akhir percakapan, gadis itu berkata, "Sebenarnya, saya tidak mau menyerahkan ponsel kedua saya. Selama ini saya diam-diam memakainya sepanjang waktu. Tetapi sekarang, mudah bagi saya untuk menyerahkannya, karena saya tahu Ibu benar-benar peduli pada saya."
Yvonne sangat bersukacita. Gadis itu menyadari bahwa Yvonne tidak bermaksud jahat, tetapi ingin menolongnya melepaskan diri dari kecanduan ponsel. Pada dini hari itu, ia menyerahkan hidup dan kebiasaannya kepada Tuhan—termasuk dalam hal penggunaan teknologi.
Terima kasih atas Persembahan Sabat Ketiga Belas, juga dikenal sebagai Persembahan Proyek Misi Triwulanan, yang membantu membawa orang-orang kepada Tuhan yang memberi kuasa untuk mengatasi kecanduan. Bogenhofen, yang terletak dekat Braunau, Austria, menerima sebagian persembahan 1986 untuk membuka asrama putri tempat kisah ini terjadi. Persembahan triwulan ini akan membantu lebih banyak orang mengenal Tuhan di seluruh Divisi Inter-Eropa, termasuk di Austria.