Artikel // Kajian Filosofis // Rabu, 24 Desember 2025



Natal dan Polemik

Perayaan Natal sebagai tradisi agamawi selalu menjadi polemik bukan hanya dari luar tapi juga dari dalam kekristenan, sering anggota gereja kita berkontribusi dalam polemik ini. Meski statement General Conference sudah jelas bahwa perayaan natal diserahkan kepada masing-masing pribadi yang berujung kepada sikap saling menghormati, tetapi masih ada kelompok tradisional memberikan tuduhan dan sentimen negatif yang dapat memecah belah. Artikel ini akan memberi referensi dan sudut pandang yang membantu anda menyikapi tradisi natal dengan bijaksana.

Natal dan Kesunyian Informasi.
Sumber Alkitab diam tentang tanggal kelahiran juruslamat kita, salah satu alasan yang ditawarkan dari kesunyian ini adalah ‘bahwa Allah sengaja merahasiakan tanggal natal dari kita.’ Jujur saja saya tidak merasa diyakinkan dengan argumen tersebut, itu lebih terdengar asumsi dari pada ide dalam kitab suci. Meski begitu saya punya alternatif pandangan yang dapat pembaca pertimbangkan. Dalam inspirasi Roh Kudus para penulis injil merasa tidak perlu mencantumkan tanggal kelahiran juruslamat. Setidaknya Ada 2 alasan:

1. Mengenang tanggal kelahiran bukan tradisi yudaisme. Tanggal-tanggal yang signifikan dalam yudaisme adalah tanggal-tanggal yang monumental secara bangsa, dalam yudaisme ulang tahun yang bersifat personal bukanlah tanggal yang diberi perhatian lebih. Presuposisi ini yang mengantar penulis injil untuk melewatkan detail tanggal kelahiran juruslamat.

2. Tanggal kelahiran bukan bagian dari nubuatan mesias. Secara sastra kitab-kitab injil bergenre biografi kuno, penulis injil menuliskan bagian-bagian signifikan dari kehidupan Yesus yang relevan dengan nubuatan mesias dalam kitab suci. Mengenai topik kelahiran mesias penulis injil menyorot ‘silsilah, ibu perawan dan lokasi kelahiran’ yang merupakan elemen-elemen nubuatan mesianik dalam perjanjian lama. Ingat penulis injil sedang berusaha menyusun biografi Yesus yang dapat meyakinkan pembaca mula-mula bahwa Yesus adalah Mesias yang dinubuatkan dalam kitab perjanjian lama. Melewatkan tanggal kelahiran adalah masuk akal karena memang tidak relevan dengan tujuan tersebut.

Catatan Historis versus Teori Konspirasi.
Perayaan natal pada abad-abad awal berlatar belakang pada kebutuhan gereja dengan segala tantangan yang dihadapinya, gereja membuat suatu perayaan yang bersifat perenungan (reflektif) dan pembelaan iman (apologetik) melawan ajaran menyimpang seperti adopsionisme yang percaya gelar Anak Allah pada Yesus dimulai ketika baptisan bukan pada saat kelahiran atau didalam kekekalan. Refleksi natal adalah salah satu respon gereja dalam menyikapi ajaran yang menyimpang. Pada awalnya perayaan kelahiran Kristus 1 paket dengan perayaan ’Teofani’ dari gereja timur. Perayaan ‘Teofani' atau nama lainya 'Epifani’ adalah perayaan rangkap:

1. mengenang peristiwa pembaptisan Tuhan Yesus

2. dan peristiwa kelahiran-Nya

Diadakan pada 6 januari, catatan pertama tentang perayaan epifani ada dalam tulisan Klemens dari Aleksandria (±215M) dalam karyanya 'Stromata I.21.' Hingga kini hari raya epifani masih terpelihara di beberapa gereja seperti gereja ortodoks timur juga ortodoks oriental. Terkait perbedaan tanggal 25 desember dan 6 januari merupakan isu perbedaan kalender gregorian dan kalender julian yang masih dipertahankan gereja timur (tanggal 25 desember kalender gregorian jatuh pada 6 januari kalender julian), serta ada juga pemisahan di kemudian hari oleh gereja barat yang memisahkan perayaan kelahiran dari perayaan epifani. Kita akan mengulas tanggal 25 desember tapi jelas bahwa perayaan kelahiran Kristus tidak bermula dari tradisi pagan.

Keliru mengatakan pemilihan tanggal 25 desember untuk natal adalah hasil meniru hari raya matahari tak terkalahkan sol invictus tanggal 25 desember, tuduhan ini justru bersifat anakronisme (kesalahan kronologi).
1. Hippolytus dari roma (±170-235M) bicara tanggal 25 desember sebagai natal Yesus Kristus dalam karyanya 'Commentary on Daniel 4.23'
2. Hari raya sol invictus 25 desember diresmikan pada tahun 274M oleh Kaisar Aurelianus.
Meski data di atas tidak membuktikan 25 desember sebagai hari natal yang tepat tapi membuktikan bahwa natal 25 desember lebih tua dari 25 desember sol invictus. Jika natal 25 desember sudah eksis lebih dahulu maka tidak ada alasan mengadopsi tanggal 25 desember dari sol invictus yang muncul belakangan.

Kalau bukan dari percampuran hari raya pagan (sinkretisme) lalu dari mana ide 25 desember sebagai natal? Bukan berasumsi tapi kita kembali merujuk kepada dokumen-dokumen kekristenan abad-abad awal.
1. Irenaeus dari Lyon (130-202M) dalam karyanya ’Adversus Haereses’ mencatat bahwa Yesus Kristus dikandung pada tanggal 25 Maret dan disalibkan pada tanggal yang sama.
2. Agustinus (354–430M) juga menyebut Yesus mati 25 maret dalam karyanya ’Sermon 202.’ Dalam karya lain ’De Trinitate, Buku IV pasal 5’ agustinus mengembangkan gagasan bahwa para nabi besar wafat pada tanggal yang sama dengan hari mereka dikandung.
3. Talmud babilonia memiliki sedikit variasi, dalam 'Rosh Hashanah 11a' mencatat ide dalam tradisi yahudi bahwa orang-orang saleh lahir dan wafat pada bulan yang sama.
Teori tanggal kematian sama dengan tanggal dikandung disebut dengan teori ‘Integral Age.’ Teorinya adalah jika Kristus dikandung pada tanggal yang sama pada waktu Ia mati yaitu 25 maret maka sembilan bulan kemudian jatuh pada 25 desember sebagai tanggal kelahiran-Nya. Memang teori di atas bukan satu-satunya alasan penanggalan natal 25 desember, sebenarnya ada beberapa teori lain tapi sudah umum dan sering dibahas. Teori di atas masih jarang di angkat karena itu sengaja di cantumkan dalam artikel ini sebagai referensi baru yang mempunyai nilai historis. Saya tidak bermaksud meyakinkan anda tentang keakuratan natal 25 desember, point saya adalah dari dokumen-dokumen tersebut kita tidak menemukan adanya motif sinkretisme pagan.

Tradisi Agamawi bukan Ritual Dogmatis.
Natal 25 desember bukan perintah bukan pula larangan dalam kitab suci, perayaan ini adalah tradisi konsensus gereja sejak abad-abad awal. Perlu diperjelas bahwa hakekatnya perayaan natal adalah tradisi agamawi bukan ritual dogmatis yang mengikat seperti sakramen baptisan atau perjamuan kudus, kita perlu sadari perayaan natal bukan kewajiban yang mengikat tapi berada pada level tradisi sebab itu merayakan atau tidak bukanlah sebuah masalah besar. Perbedaan pilihan haruslah disertai dengan sikap menghargai bukan sikap sentimen yang memecah belah.

Terkait tradisi, Tuhan Yesus sendiri pernah hadir dalam hari raya hanukkah yang bersifat tradisi non Alkitab (ekstra biblika). Hari raya hanukkah atau biasa disebut hari raya pentahbisan berasal dari sejarah yahudi 2 abad sebelum masehi, memperingati perjuangan kaum makabe melawan penindasan kekaisaran Seleukia. Raja Antiokhus Epifanes IV menajiskan bait suci dengan cara membangun mezbah zeus di Bait Suci dan mempersembahkan korban babi di atas mezbah, memicu pemberontakan kaum yahudi makabe tahun 167 SM sampai 160 SM. Yerusalem berhasil direbut, bait suci ditahirkan dan ditahbiskan kembali. Inilah asal mula perayaan hanukkah. Tidak ada perintah perayaan hanukkah dalam kitab perjanjian lama sebab latarbelakang hanukkah terjadi setelah rampungnya penulisan kitab-kitab perjanjian lama. Tuhan Yesus hadir dan berbaur dalam perayaan hanukkah yang bersifat tradisi (Yoh 10:22 &23), tidak ada narasi penolakan bahkan Dia menjadikan moment tersebut sebagai panggung pekabaran. Bukankah ini adalah tindakan bijak yang perlu ditiru oleh umat gereja Advent dalam konteks tradisi natal? kita tidak lupa misi saat kita berbaur (sambil menjaga prinsip iman), kita bahkan punya kesempatan untuk membenahi perayaan natal (rekulturasi) dengan menyingkirkan atribut yang tidak Alkitabiah seperti pesta pora, pelesiran termasuk tokoh santa claus. Suasana natal boleh jadi moment berbagi kasih dan pekabaran, berbicara kedatangan yang pertama sekaligus bicara kepastian kedatangan-Nya ke dua kali. Sedangkan janji kedatangan-Nya yang pertama tergenapi untuk pekerjaan penebusan yang dihina dunia, terlebih kepastian kedatangan-Nya yang kedua kali dalam kemuliaan!

Tradisi Natal dan Inkonsistensi kita.
Beberapa orang menolak keras tradisi natal dengan alasan bukan perintah kitab suci, tapi disisi lain mereka menerima tradisi lain. Sebagai contoh gereja advent pada level gereja lokal mengadakan acara buka tahun baru digereja, padahal penanggalan tahun baru tidak lepas dari tanggal 25 desember. Penanggalan tahun baru masehi dibuat berdasarkan bayi Yesus disunat hari ke 8 pasca kelahiran (brit milah). Merayakan tahun baru dan menolak keras natal adalah sikap tidak konsisten sebab 2 perayaan itu saling terhubung saling berelasi.

Ada satu tradisi yang dirayakan sebagian anggota gereja kita diwilayah minahasa sulawesi utara, perayaan ini disebut Pengucapan Syukur (hari raya ucapan syukur atas panen). Perayaan ini berasal dari tradisi kuno suku minahasa yang dulu disebut ‘Foso Rumages’ foso artinya perayaan dan rummages yang berasal dari kata dasar rages yang berarti syukur. Pada prakteknya ritual syukur ini melibatkan kegiatan persembahan kepada Tuhan (Opo Empung ) dan juga persembahan kepada roh-roh leluhur (Opo). Masuknya pengaruh kekristenan di tanah minahasa membuat ritual tersebut ditinggalkan, namun nilai teologis ungkapan syukur kepada Tuhan atas panen masih dipertahankan. Proses dari budaya lokal menjadi bagian dari agama disebut inkulturasi. Menariknya saya tidak pernah menemukan narasi penolakan terhadap tradisi pengucapan syukur, saya juga tidak menolaknya! Point saya adalah menolak tradisi natal namun menerima tradisi lain yang jelas-jelas memiliki proses inkulturasi terdengar sikap yang tidak konsisten.

Lebih mendalam, apakah anda sadar bahwa banyak praktik keagamaan kita memiliki elemen tradisi non kitab suci? Ibadah buka tutup sabat tidak tertulis dalam kitab suci, Ibadah rabu malam tidak tertulis dalam kitab suci, mekanisme perjamuan di adakan pertriwulan juga tidak tertulis dalam kitab suci, perayaan hari ibu dan tradisi terbaru adalah perayaan ulang tahun gereja. Bukankah ini sebuah pengembangan di kemudian hari dan menjadi tradisi turun temurun hingga hari ini? Kenapa tradisi natal menerima pukulan sedangkan yang lain diterima dengan tangan terbuka? Saya tidak mempersoalkan hal-hal di atas karena kekristenan berfokus kepada nilai-nilai teologis bukan ketat kepada tradisi tertentu atau budaya tertentu. Tradisi bukanlah musuh bagi kekristenan selama nilai teologis kekristenan tidak ditabrak oleh budaya maupun tradisi.

Tuhan Yesus pernah mengkritik tradisi tapi bukan karena anti tradisi, dalam Matius 15:3 orang yahudi menerima kritik dari juruslamat karena tradisi mereka melangkahi esensi dari perintah Allah. Itu adalah contoh yang sangat baik dalam menyikapi tradisi yang telah melampaui batasan. Kita tegas tanpa kompromi kepada tradisi yang salah tapi bijak kepada tradisi yang tidak melangkahi nilai-nilai kekristenan. Lagipula elemen-elemen dari hidup manusia tidak lepas dari tradisi bukan? Teologi kontekstual seharusnya kita gunakan dengan bjiak agar dapat menjembatani Injil.

Tradisi Natal dan Kesempatan.
Ada pendapat bahwa bisa memperingati natal setiap hari atau kapan saja, jika mengunakan logika itu maka boleh memilih tanggal apapun termasuk 25 desember. Meski begitu natal 25 desember bukanlah hal yang substansial untuk diperdebatkan, begitu pula persoalan gereja kuno menentukan tanggal tersebut. Anda setuju atau tidak mengenai natal 25 desember tapi faktanya jutaan orang kristen sedang mengingat kelahiran Kristus, orang-orang yang hatinya terjamah oleh berita natal. Saya tidak mau melewatkan kesempatan yang baik ini untuk mengatakan bahwa Yesus yang pernah lahir di dunia akan datang kembali. Janji kedatangan pertama telah tergenapi dan sekarang kita dalam fase penantian kedatangan yang ke dua, umat Allah bukan lagi menanti Bayi Suci dipalungan tapi menanti Raja Mulia yang menghakimi dengan Adil.

Selamat natal bagi yang merayakan dan salam damai bagi mereka yang abstain. Tuhan Yesus memberkati kita semua.


Penulis Artikel: Adam Hiola (teolog awam)




Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp