Artikel // Refleksi Iman // Senin, 16 September 2024
Dalam Injil matius markus lukas (injil sinoptik) maupun Injil yohanes, selalu menarik untuk menyorot pengajaran dan prilaku Juruslamat yang unik apalagi jika dibaca dalam konteks sosial dunia greco-roman. Kali ini penulis artikel menyorot kisah yang cukup familiar yaitu “Persembahan Janda Miskin.” Dibanyak kesempatan Kristus menempatkan diri-Nya sebagai subjek dari pengajaran, Dia menunjuk diri-Nya sendiri sebagai kebenaran, sumber pengajaran dan teladan. Secara eksplisit maupun implisit Kristus mengajak orang untuk meneladani-Nya. Namun kisah persembahan janda miskin sedikit berbeda, kali ini janda miskin yang menjadi subjek. Melalui tindakan janda tersebut, Kristus menginspirasi kita.
Dari kalangan aristokrat seperti saduki sampai sipil yahudi dengan garis sosial rendah datang membawa persembahan (Mrk 12:41 & Luk 21:1). Dari sekian banyak orang lalu lalang meletakan persembahan mereka kedalam peti persembahan, mata juruslamat terfokus kepada seorang janda miskin. Kristus bahkan repot-repot mengarahkan mata para murid dengan tujuan memfokuskan perhatian mereka kepada prilaku janda tersebut (Mrk 12:43). Seorang sipil biasa apalagi janda miskin mungkin bukan pembahasan yang menarik bagi murid-murid, tapi bagi Yesus prilaku janda miskin itu menarik.
Mudah ditebak persembahan janda itu bukanlah angka yang mengejutkan apalagi mengundang perhatian dari banyak orang yahudi, satu duit (κοδράντης ‘kodrantes’ koin romawi terkecil) hanya memikat perhatian satu orang yahudi yaitu Yesus. Pemberian janda miskin memikat perhatian Yesus sekaligus berbuah pujian, Yesus berkata: …janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan (Mrk 12:43) . Secara angka janda itu kalah, tapi secara persentase janda ini unggul dari semua sebab dia memberi semuanya (100%). Mrk 12:44 …ὅλον τὸν βίον αὐτῆς ‘holon ton bion autes’ diterjemahkan LAI TB secara kontekstual/dinamis: ‘seluruh nafkahnya.’ KJV menerjemahkan ‘Seluruh Hidupnya.’
Janda ini tidak menunda persembahannya dan berkata: ‘Saya akan memberi ketika saya memiliki lebih banyak.’ Meski wanita ini miskin karena dia tidak memiliki suami untuk membantu menghidupinya, itu bukan alasan untuk tidak memberi yang terbaik untuk Allah. Ketika nafkahnya diletakan dalam peti persembahan, wanita itu meletakan seluruh hidupnya pada pemeliharaan Allah. Ini adalah ekspresi iman, bukan sekedar perkara pemberian. Janda tersebut mengambil resiko kelaparan dan menaruh percaya kepada Allah atas pemeliharaan hidupnya. Iman yang begitu hidup dan pemberian yang spektakuler! Apakah anda sudah memahami mengapa Kristus memujinya? Tuhan tidak membutuhkan uang janda itu, Tuhan inginkan adalah hatinya. Hidup bergantung kepada TUHAN penyedia (יְהוָה יִרְאֶה YHVH yirʾeh; dibaca Adonai yireh), kehidupan seperti ini adalah ekspresi iman yang luar biasa dimana janda itu menempatkan dirinya layaknya seorang anak perempuan yang percaya akan kasih sayang Ayah.
Menariknya dalam kitab Injil mencatat bagaimana pelayanan untuk janda yahudi yang terluput dari perhatian para pemimpin agama yang korup bahkan memiskinkan janda (Mrk 12:40); politik antar pemimpin yahudi (adanya 2 imam besar); kehidupan sosial yang tidak ramah terhadap kaum marginal; isu-isu yang umum pada waktu itu yang tentu saja diketahui oleh janda miskin ini. Luar biasanya fenomena-fenomena itu tidak menggangu iman dari janda tersebut, janda miskin tetap memberi yang terbaik walau situasi keagamaan yang begitu buruk! Templakan keras bagi mereka yang menahan persembahan karena konflik dengan pemimpin; ketidak percayaan pada pemimpin; dan masalah personal; Sikap menahan persembahan adalah wujud sebenarnya dari motif memberi yang terikat kepada manusia tapi tidak terikat kepada Allah.
Prinsipnya, sedikit atau banyaknya persembahan bukanlah perkara angka yang dapat memikat hati Allah. Dia yang memiliki apapun yang maha melampaui apapun dapat melakukan apapun tanpa butuh apapun dari manusia, sebab itu jangan beranggapan seolah-olah pekerjaan Allah bergantung kepada pemberian kita. Persembahan bukan berguna untuk Allah tapi justru berguna untuk kita sebagai kesempatan mengucap syukur dan bentuk iman yang hidup, bertumbuh serta berbuah. Persembahan adalah kesempatan istimewa kita untuk terlibat dalam pekerjaan-Nya. Sembari persembahan yang rela hati itu perlahan-lahan mengikis sifat egois, menggantinya dengan kasih dan iman.
Janda miskin yang tidak bermental miskin menjadi sosok yang dipakai Juruslamat untuk menerangi pikiran kita, pemberian berdasarkan kasih dan iman adalah pemberian yang berbauh harum dihadapan Allah. Terlebih dari itu, Bapa disorga sendiri telah memberikan teladan terbaik dalam ‘hal memberi’ yaitu memberikan Putra-Nya demi keselamatan manusia. Pemberian sorgawi yang akan selalu diingat bukan hanya oleh manusia saja tapi oleh semua makhluk kosmik.
Penulis Artikel: Adam Hiola (teolog awam)