Artikel // Apologetika // Kamis, 12 Maret 2026



Kami Tritunggal


Seorang Teolog dari tradisi Reformed, Dr.Deky Hidnas Yan Nggadas, membuat sebuah siaran langsung di kanal YouTube-nya dengan judul "Adventisme Tidak Trinitarian." Cukup mengagetkan karena biasanya gereja kita dikritik pada doktrin khasnya (distinctive doctrines), seperti sabat. Setelah mendengarkan secara utuh tuduhan tersebut ternyata tidak seseram judulnya. Tuduhan tersebut berpusat pada teologi para pionir Gereja Advent. Ini bukanlah tuduhan yang menyeramkan bagi gereja kita, akan saya buktikan!

Pendahuluan
Alih-alih mengambil sumber yang representatif dari Gereja Advent masa kini, polemikus justru memilah-milah data klasik (sebagian literatur modern tapi mengutip secara selektif) untuk menilai Gereja Advent kontemporer. Dalam risetnya beliau melakukan 'cherry picking', tindakan memilih-milih data yang dapat mendukung agenda dan mengabaikan data-data yang bertentangan dengan agenda. Disamping itu, mengabaikan hal paling penting dalam isu ini yaitu Gereja Advent berkembang sama seperti gereja Kristen lain yang mengalami perkembangan dalam pemahaman teologis.

Gereja Berproses
Menariknya Kitab suci memberi kesaksian tentang gereja mula-mula yang bergumul dan mengalami perkembangan teologis:
1. Baptisan kornelius menciptakan ketegangan dalam gereja perdana yang bersifat eksklusif (Kis 11:2)
2. Rasul Yakobus dan Rasul Yohanes menginginkan kursi strategis karena ide mesias politik (Mrk 10:35-37)
Kesalahpahaman tidak hanya terjadi pada level kolektif tapi juga terjadi pada level individu.
3. Maria dari magdala menangis di dekat kubur kosong (Yoh 20:11),
4. Rasul paulus merasa melayani Allah ketika dia mempersekusi orang kristen (Kis 26:9).
Gereja bergumul dan bertransformasi:
1. Gereja perdana menjadi inklusif pasca baptisan kornelius (Kis 11:18)
2. Rasul Yakobus menjadi martir pertama dari kalangan murid, dahulu perencana yang politis tapi rela mati ditangan politisi roma (Kis 12:1-2). Rasul Yohanes adiknya menjadi penulis kitab Injil
3. Sukacita ganti tangisan, maria magdalena menjadi pekabar pertama tentang kebangkitan Tuhan (Yohanes 20:17-18)
4. Dari persekusi berubah mengasihi, Rasul Paulus begitu peduli kepada gereja Kristus (Flp 1:8)
Kisah-kisah pergumulan mereka berlanjut pada kisah "Keberhasilan Allah mentransformasi akal budi." Kisah itu dicatat bukan untuk mempermalukan mereka tapi justru mempertontonkan "Karya Allah mengatasi keterbatasan manusia."

Kita bisa menambahkan para reformator seperti Luther dalam daftar ini, Luther pernah mengkritik Surat Yakobus sebagai surat jerami (dalam Preface to the New Testament). Tentu saja Protestan Modern meninggalkan pandangan ini bukan? Bukankah proses perkembangan teologis terjadi juga pada masing-masing kita? Saya masih ingat 2007 ketika saya dari muslim dibaptis menjadi kristen. Saya tidak mengetahui banyak hal dan sering kali memiliki pemahaman yang keliru, tapi satu yang saya yakini benar yaitu Kristus Juruslamat! Itu sudah cukup untuk langkah awal mengalami proses kematangan didalam-Nya. Proses pemahaman yang bertumbuh merupakan pengalaman umum dalam kehidupan iman setiap orang percaya. Saya rasa anda dan polemikus tersebut juga mengalaminya bukan? kecuali seseorang menolak mengakui proses tersebut.

Presuposisi Pionir Advent
Beberapa poin penting ketika membahas Pionir Gereja Advent terkait Tritunggal:
1. Para pionir Gereja Advent (bisa disebut juga kaum millerite) berasal dari berbagai denominasi dan pergerakan Kristen. Joseph Bates, James Springer White berasal dari pergerakan Christian Connection, termasuk John Nevins Andrews yang masuk dalam pergerakan christian connection melalui orang tuanya. Ini isu penting karena christian connection merupakan gerakan restorasi protestan abad ke-19 yang memiliki sentimen negatif terhadap Gereja Tradisional. Melalui presuposisi christian connection para pionir menilai Tritunggal klasik, mereka sudah punya ide Anti Tritunggal lebih dahulu.
2. Beberapa pionir salah memahami konsep Tritunggal, contoh pernyataan Joseph Bates:
"Respecting the trinity, concluded that it was impossible for me to believe that the Lord Jesus Christ, the Son of the Father, was also the Almighty God, the Father, one and the same being." — 1827, reported in 1868.
terjemahan: Mengenai Tritunggal, saya sampai pada kesimpulan bahwa mustahil bagi saya untuk percaya bahwa Tuhan Yesus Kristus, Anak dari Bapa, juga adalah Allah Yang Mahakuasa, yaitu Bapa itu sendiri, satu dan sama.
*perhatikan dengan seksama, Bates keliru memahami konsep Tritunggal. Tritunggal tidak pernah memahami Bapa dan Anak adalah pribadi yang satu dan sama, dengan demikian Bates sesungguhnya tidak mengkritik dan tidak menolak Tritunggal yang sebenarnya.
Contoh lain, pernyataan J.N. Loughborough:
"If Father, Son, and Holy Ghost are each God, it would be three Gods" — (1861).
terjemahan: Jika Bapa, Anak, dan Roh Kudus masing-masing adalah Allah, maka itu berarti ada tiga Allah.
*tiga Allah bukanlah konsep Tritunggal, jadi Loughborough tidak mengkritik posisi Tritunggal yang sebenarnya. Dari contoh-contoh di atas dapat disimpulkan bahwa para pionir advent menolak Tritunggal dalam ketidakpahaman mereka akan konsep Tritunggal yang ortodoksi. Mereka tidak benar-benar menolak Tritunggal Ortodoksi.
3. Pada dekade 1840-an (sebelum Gereja Advent resmi terbentuk) banyak pionir Advent memegang pandangan non-Trinitarian karena latarbelakang christian connection, namun 30 tahun kemudian (1870-an/kurang dari 1 dekade pasca Gereja Advent terbentuk tahun 1863) mulai ada keraguan dikalangan internal mengenai posisi anti trinitarian. Mulai muncul diskursus internal yang menunjukkan keterbukaan dan pertimbangan terhadap pemahaman yang lebih tinggi tentang keilahian Kristus dan kepribadian Roh Kudus, sehingga secara bertahap mempersiapkan jalan bagi penerimaan Doktrin Tritunggal dalam teologi Advent.
4. Pada masa pembentukan Gereja Advent doktrin Tritunggal bukan isu utama saat itu, sehingga isu Tritunggal tidak banyak diangkat ketika pembentukan Gereja Advent pada tahun 1863.
5. Hal penting lainnya adalah bahwa para pionir tidak menganut prinsip terang penuh/konstan (Finished/Full Light), melainkan prinsip penerimaan terang secara progresif. Semangat ini tetap dipelihara dalam perkembangan teologi Gereja Advent hingga kini.

Saya kira 5 poin di atas cukup memberi gambaran posisi Gereja Advent mula-mula yang non-Trinitarian dan transisinya. Kita tidak akan berlama-lama dalam ide teologis para pionir, jika ini diuraikan menjadi pelajaran sejarah yang panjang ketimbang menjawab substansi masalah. Kita sudah pahami bahwa Gereja Advent bahkan Gereja Kristen secara umum mengalami pergumulan dan perkembangan. Jadi mari menilai Gereja Advent sebagaimana adanya saat ini!

Tujuan artikel singkat ini dibuat untuk menjawab posisi Gereja Advent kontemporer, mari kita lihat posisi Gereja Advent masa kini melalui data-data yang representatif terkait Tritunggal.

Pernyataan resmi Gereja Advent:
There is one God: Father, Son, and Holy Spirit, a unity of three coeternal Persons. God is immortal, all-powerful, all-knowing, above all, and ever present. He is infinite and beyond human comprehension, yet known through His self-revelation. God, who is love, is forever worthy of worship, adoration, and service by the whole creation.
— Fundamental Beliefs - No.2 Trinity.
terjemahan: Ada satu Allah: Bapa, Anak, dan Roh Kudus, suatu kesatuan dari tiga Pribadi yang kekal. Allah itu abadi, Mahakuasa, Mahatahu, lebih dari segalanya, dan hadir di mana-mana. Allah itu tidak terbatas dan lebih dari pemahaman manusia, namun dikenal melalui penyataan diriNya. Allah yang adalah kasih, layak disembah, dipuja dan dilayani selama-lamanya oleh segenap ciptaan.
*Perhatikan dengan seksama kesatuan yang dimaksud tidak menyebut kesatuan relasi seperti yang dituduhkan, tapi mendeskripsikan atribut keAllahan (aspek ontologis).

Aspek ontologis, satu dalam natur:
“The Trinity doctrine teaches that the Godhead consists of three divine Persons-the Father, Son, and Holy Spirit. They are not three Gods, but three divine Persons who are one in nature.”
— Handbook of Seventh-day Adventist Theology (2000) - Chapter: The Trinity p229.
terjemahan: Doktrin Tritunggal mengajarkan bahwa Keallahan terdiri dari tiga Pribadi ilahi—Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Mereka bukan tiga Allah, melainkan tiga Pribadi ilahi yang satu dalam natur.

Mengafirmasi Tritunggal klasik yang dipercaya Kekristenan arus utama:
In contrast to the heathen of surrounding nations, Israel believed there was only one God (Deut. 4:35; 6:4; Isa. 45:5; Zech. 14:9). The New Testament makes the same emphasis on the unity of God (Mark 12:29-32; John 17:3; 1 Cor. 8:4-6; Eph. 4:4-6; 1 Tim. 2:5). This monotheistic emphasis does not contradict the Christian concept of the triune God or Trinity-Father, Son, and Holy Spirit.
— Seventh-day Adventists believe - a Biblical exposition of fundamental doctrines, Chapter 2 p29.
terjemahan: Berbeda dengan bangsa-bangsa kafir di sekitarnya, Israel percaya bahwa hanya ada satu Allah (Ulangan 4:35; 6:4; Yesaya 45:5; Zakharia 14:9). Perjanjian Baru menekankan hal yang sama mengenai kesatuan Allah (Markus 12:29-32; Yohanes 17:3; 1 Korintus 8:4-6; Efesus 4:4-6; 1 Timotius 2:5). Penekanan monoteistik ini tidak bertentangan dengan konsep Kristen tentang Allah Tritunggal—Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Satu Otoritas bersama:
There is no distance between the persons of the triune God. All three are divine, yet they share their divine powers and qualities. In human organizations final authority rests in one person—a president, king, or prime minister. In the Godhead, final authority resides in all three members.
— Seventh-day Adventists believe - a Biblical exposition of fundamental doctrines, Chapter 2 p30.
terjemahan: Tidak ada jarak antara pribadi-pribadi dalam Allah Tritunggal. Ketiganya adalah ilahi, namun mereka saling berbagi kuasa dan sifat ilahi. Dalam organisasi manusia, otoritas tertinggi berada pada satu orang—seorang presiden, raja, atau perdana menteri. Dalam keilahian, otoritas tertinggi berada pada ketiga anggota secara bersama.

Satu substansi dan tak bisa dipisahkan:
“…we must confess that the Trinity is one indivisible God and that the distinctions of the persons do not destroy the divine unity. This unity of God is expressed by saying that He is one substance.
— Raoul Dederen. Reflections on the Doctrine of the Trinity. (Publikasi Akademik: Andrews University Seminar Studies)
terjemahan: “…kita harus mengakui bahwa Tritunggal adalah satu Allah yang tak terpisahkan dan bahwa perbedaan pribadi-pribadi tidak menghancurkan kesatuan ilahi. Kesatuan Allah ini diungkapkan dengan mengatakan bahwa Dia adalah satu substansi."

Subordinasi fungsional bukan ontologis:
“The subordination of Christ to the Father and the Holy Spirit to both the Father and the Son is merely for the practical purposes of creation and redemption among those otherwise equal in their shared divine nature.”
— Whidden, Moon, Reeve. The Trinity (2002), pp. 275–277. (literatur sistematika advent)
terjemahan: “Subordinasi Kristus kepada Bapa dan Roh Kudus kepada Bapa serta Anak hanyalah untuk tujuan praktis dalam karya penciptaan dan penebusan di antara Pribadi-pribadi yang pada hakikatnya setara dalam natur ilahi yang mereka miliki bersama.”

Monoteistik, Kesatuan Ontologis dan Ekonomis:
While the Godhead is not one in person, God is one in purpose, mind, and character. This oneness does not obliterate the distinct personalities of the Father, the Son, and the Holy Spirit. Nor does the separateness of personalities within the Deity destroy the monotheistic thrust of Scripture that the Father, Son, and Holy Spirit are one God.
— Seventh-day Adventists believe - a Biblical exposition of fundamental doctrines, Chapter 2 p30.
terjemahan: Meskipun keilahian tidak satu dalam pribadi, Allah adalah satu dalam tujuan, pikiran, dan karakter. Kesatuan ini tidak menghapuskan kepribadian yang berbeda dari Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Demikian pula, perbedaan pribadi dalam keilahian tidak menghancurkan penekanan monoteistik dari Kitab Suci bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah satu Allah.

Refleksi Iman
Seperti Kristus pohon anggur sejati dan Bapa adalah pengusaha-Nya, demikian Gereja Kami adalah ranting pohon anggur yang menerima nutrisi dari Roh Kudus untuk pertumbuhan. Bapa membersihkan dan bagian yang kering dipangkasnya agar tunas segar dapat menghasilkan buah.
Seperti cawan yang dituangkan air hingga meluap, luapan air baru secara progres mengeluarkan sisa-sisa air bekas. Demikian Gereja Kami mendapat terang secara progresif.
Seperti batu pahatan yang masih kasar, Bapa memahatnya agar serupa dengan gambar Anak-Nya. Demikian Gereja Kami, setiap gerakan palu Roh Kudus bukan untuk menyakiti tapi untuk memoles kami serupa dengan pemikiran Kristus.

Gereja Advent bergumul dan mengalami kematangan. Kami tidak menutupinya dan tidak malu mengakuinya, justru ini membuktikan Allah Tritunggal bekerja didalam Gereja Kami!


Penulis Artikel: Adam Hiola (teolog awam)




Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp