Berita Misi Advent, 9 Mei 2026.

Obiero dari Kenya.
TIPS CERITA:
* Tunjukkan benua Afrika dan negara Kenya di peta. Lalu tunjukkan Kota Kisii, lokasi Sekolah Advent Mwata untuk Anak-anak Tuli, yang menerima sebagian persembahan tahun 2023. Sekolah ini berjarak sekitar 300 km sebelah barat ibu kota Kenya, Nairobi.
* Ucapkan Obiero sebagai: OH-beer-oh.
* Unduh foto untuk cerita ini dari Facebook: bit.ly/fb-mq.
* Tonton video singkat tentang Obiero di: bit.ly/Obiero2-ECD.
CERITA:
Cerita ini adalah pembaruan dari sebuah Persembahan Sabat Ketiga Belas, yang juga dikenal sebagai Proyek Persembahan Misi Triwulanan.
Obiero menghadapi tantangan besar sebagai kepala sekolah Advent pertama di Kenya yang khusus bagi anak-anak yang tuli.
Tidak mudah menemukan anak-anak yang bersedia untuk belajar di sekolah asrama tersebut.
Di beberapa komunitas di Kenya, ketulian sering disalahartikan sebagai bukti dosa dalam keluarga. Mungkin ibu atau kakek sang anak pernah melakukan sesuatu yang salah sehingga anak itu dihukum Allah dengan ketulian. Orang-orang tidak menerima kenyataan bahwa kehilangan pendengaran bisa disebabkan oleh faktor genetik, cacat lahir, penyakit, atau berbagai alasan lainnya.
Karena dianggap hukuman, beberapa orang tua bahkan menyembunyikan anak-anak mereka yang tuli di rumah.
Misi Obiero adalah mengajarkan kepada para orang tua bahwa ketulian bukanlah hukuman. Ia melihat hidupnya sendiri sebagai bukti nyata keyakinan itu. Ia belajar sejak kecil bahwa kehilangan pendengaran bisa terjadi akibat obat-obatan.
Obiero lahir dengan pendengaran normal. Ayahnya meninggal saat ia masih kecil, dan ibunya yang buta menuntunnya ke gereja Advent setiap Sabat untuk beribadah.
Namun ketika berusia 13 tahun, ia terserang penyakit malaria. Di rumah sakit, ia mendapat suntikan obat darurat. Sesaat setelah disuntik, telinganya terasa sangat sakit dan mulai berdarah. Ia dipindahkan ke rumah sakit kedua, dan para dokter mengatakan bahwa obat dari rumah sakit pertama telah merusak pendengarannya. Mereka mengatakan bahwa ia akan menjadi tuli.
Anak itu dirawat lama di rumah sakit. Ia melihat banyak penderita malaria lain yang tidak bisa pulang. Tetapi ia sembuh dan akhirnya diperbolehkan pulang.
Di rumah, pendengarannya mulai memudar. Untuk sementara waktu ia masih bisa mendengar suara keras, dan alat bantu dengar juga menolongnya. Namun ketika ia berusia 14 tahun, ia benar-benar kehilangan pendengaran.
Obiero merasa putus asa. Ia lahir dengan pendengaran yang normal, tetapi sekarang ia tidak bisa mendengar apa pun. Ia bertanya-tanya apakah ia sedang dihukum Allah.
Dalam keputusasaannya, ia menemukan pengharapan di Alkitab. Ia membaca Yeremia 29 ayat 11, "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." Tidak mudah menemukan anak-anak yang bersedia untuk belajar di sekolah asrama tersebut.
Ia berpikir, "Mungkin menjadi tuli adalah rencana Allah untuk membuatku berhasil. Mungkin dengan menjadi tuli, aku bisa menolong orang lain."
Kini, ia yakin bahwa kehilangan pendengaran adalah bagian dari rencana Allah untuk memberkati dirinya sekaligus memberkati orang lain. Ia menyelesaikan pendidikan dan menjadi guru di Sekolah Advent Mwata untuk anak-anak tuli. Lalu ia diangkat menjadi kepala sekolah.
Sekolah ini memiliki 73 anak berusia 4 hingga 18 tahun. Mereka mendapat pendidikan dan diajarkan keterampilan hidup dasar. Mereka juga belajar membaca Alkitab dan memiliki hubungan pribadi dengan Allah. Mereka mengetahui bahwa Alkitab pun berisi kisah-kisah tentang orang tuli, dan yang terpenting Yesus tidak pernah mengutuk mereka, melainkan menyembuhkan mereka.
Obiero berkata kepada anak-anak, "Yesus segera datang, dan Ia akan membuka telinga kalian. Kalian tidak akan tuli selamanya. Akan tiba waktunya ketika kita semua akan mendengar."
Sejak sekolah ini dibuka pada 2012, sebanyak 97 anak telah belajar di sana, dan 26 di antaranya telah dibaptis.
Obiero memuji Allah karena membuatnya tuli dan memberinya kesempatan untuk memimpin Sekolah Advent Mwata untuk Anak-anak Tuli.
"Sekarang saya tahu bahwa itu adalah rencana Allah untuk saya menjadi tuli," katanya. "Dengan menjadi tuli, Allah memakai saya untuk menolong anak-anak di sekolah ini dan melaksanakan misi-Nya di sini. Saya bersyukur kepada-Nya karena saya tuli."
Sebagian dari persembahan tahun 2023 digunakan untuk memperluas Sekolah Advent Mwata untuk Anak-anak Tuli di Kenya dengan membangun asrama baru bagi anak laki-laki dan perempuan serta sebuah aula serbaguna dengan dapur modern dan ruang makan. Sebelumnya, anak-anak makan di lapangan terbuka, dan makanan mereka dimasak di atas api terbuka di dapur darurat yang terbuat dari lembaran seng.
Terima kasih atas kemurahan hati Anda yang telah membantu membagikan kasih Yesus kepada anak-anak di Sekolah Advent Mwata untuk Anak-anak Tuli dan di tempat lain. Salah satu proyek misi triwulan ini adalah sekolah lain, Sekolah Taman Kanak-kanak Komunitas Advent Merisho, yang juga mengajarkan anak-anak tentang Allah di Kenya. Terima kasih telah memberikan persembahan untuk proyek penting ini.