Berita Misi Advent, 7 Maret 2026. 

Mereseini dari Fiji.



Pengharapan Dipulihkan Kembali

Di pusat Kota Suva, Fiji, Klinik Harapan berdiri sebagai simbol transformasi. Didirikan berkat dukungan dari Persembahan Sabat Ketiga Belas, klinik ini tidak hanya menyediakan layanan medis tetapi juga menjadi tali penyelamat. Bagi banyak orang, tempat ini adalah tempat di mana tubuh yang terluka dan hati yang lelah menemukan pemulihan. Salah satu orang yang menemukan kesembuhan adalah seorang wanita berusia 53 tahun bernama Mereseini.

Selama bertahun-tahun, Mereseini berjuang melawan tekanan darah tinggi. la mengunjungi dokter, mengonsumsi obat-obatan dengan setia, dan mengikuti petunjuk yang diberikan dokter. Namun, angka-angka tersebut tidak pernah membaik. Kelelahan terus-menerus terjadi. Kekuatannya perlahan memudar.

"Saya merasa terjebak," katanya. "Tidak ada yang berhasil."

Suatu hari, didorong oleh rasa penasaran dan harapan akan perubahan, Mereseini memasuki pintu Hope Clinic atau Klinik Harapan.

"Saya tidak tahu apa yang diharapkan," katanya. "Saya hanya ingin merasa lebih baik."

Di dalam klinik, dia bertemu dengan staf yang tidak hanya mengobati gejala-mereka mendengarkan, memberi semangat, dan mendidik. Di antara mereka ada Dr. Akuila, yang oleh ketenangan dan keyakinannya memberi Mereseini keberanian. Dia menjelaskan bagaimana perubahan gaya hidup alami dan sederhana dapat membantu tubuhnya sembuh.

"Tidak ada garam, tidak ada daging, tidak ada makanan olahan," katanya dengan lembut. "Makanlah apa yang tumbuh dari tanah. Tubuhmu bisa pulih, tetapi itu butuh bantuanmu."

Mereseini mengangguk, menyerap setiap kata. Kedengarannya sulit, tetapi ada sesuatu di dalam dirinya yang tergerak. Dia merasa dilihat. Dia merasa ada harapan.

Dengan tekad untuk mencoba, dia pulang dan membersihkan lemari dapurnya. Tabung garam pertama disingkirkannya. Daging, nasi putih, singkong, dan talas pun dibuang. Sebagai gantinya, dia mengisi dapurnya dengan ubi jalar, pisang, dan sayuran hijau.

Kemudian tantangan yang sesungguhnya datang. Dr. Akuila menyarankan puasa air selama 10 hari-hanya air, dengan lemon sebagai pendukung. Kebanyakan orang akan ragu, tetapi Mereseini menatap pantulan dirinya dan berkata dengan lantang, "Saya akan melakukannya. Bukan untuk orang lain untuk diri saya sendiri."

Dia memulai puasa dengan tenang, tanpa keributan atau keluhan. Setiap waktu makan, dia pergi ke kamarnya sementara anak-anaknya duduk mengitari meja.

"Saya memasak makanan mereka seperti biasa," katanya, "tetapi saya berdoa saat waktunya makan. Saya meminta Tuhan untuk membantu saya melewati ini."

Hari-hari berlalu. Anak-anaknya mulai menyadari.

"Ibu, kamu terlalu kurus," kata salah satu anaknya dengan nada khawatir. "Kamu harus makan."

"Saya akan makan," jawabnya lembut. "Tetapi belum sekarang. Saya hampir menyelesaikannya." Mereseini merasa lebih kuat dari- pada bulan-bulan sebelumnya, jadi dia terus melangkah maju.

"Saya tidak merasa lapar," katanya mengingatkan. "Saya tidak merasa lemah. Saya membersihkan rumah, berjalan-jalan, dan berdoa. Rasanya seperti Tuhan yang menggendong saya. Dulu saya berpuasa sehari dan menghitung jam sampai bisa makan," katanya sambil tertawa. "Tetapi kali ini berbeda. Kali ini, saya punya tujuan."

Pada hari terakhir puasanya, Mereseini kembali ke Klinik Hope.

Perawat-perawat menatapnya dengan terkejut. Dia tersenyum dan membiarkan mereka membaca hasil tesnya. Satu per satu, mereka memeriksa berat badannya, denyut nadi, dan tekanan darahnya. Semuanya normal.

"Saya tidak pernah minum obat selama puasa," katanya kepada mereka. "Dan saya tidak membutuhkannya sejak saat itu."

Mereseini tidak lagi membutuhkan obatnya. Dietnya kini merupakan pilihan sadar: tanpa garam, daging, atau makanan olahan. Dia makan ubi jalar, pisang, sayuran, dan buah-buahan. Perubahan ini telah menyentuh setiap aspek hidupnya.

"Saya kembali ke gereja," katanya. "Saya menjemput cucu-cucu saya dari sekolah. Saya berjalan tanpa merasa lelah. Saya hidup lagi."

Dia berbicara dengan keyakinan yang tenang, tidak hanya tentang penyembuhannya sendiri, tetapi juga tentang pelajaran yang dia pelajari.

"Kita harus memilih dengan bijak apa yang kita makan,” katanya. "Tuhan memberi kita makanan untuk menyembuhkan kita, bukan untuk menyakiti kita. Saya tidak mengatakan kepada orang lain apa yang harus mereka lakukan, tetapi saya telah mengalaminya. Saya telah melihat apa yang terjadi ketika kita memercayai Tuhan dan merawat tubuh kita."

Hope Clinic memberi Mereseini lebih dari sekadar informasi-itu memberikan kepadanya cara hidup baru. Sebuah jalan yang dia tempuh dengan bangga setiap hari.

Ceritanya mengingatkan kita bahwa penyembuhan sejati sering kali dimulai ketika kita bersedia mendengarkan, percaya, dan berubah.

"Harapan itu nyata," katanya. "Dan saya menemukannya ketika saya melangkah melalui pintu itu.”

Sebagian dari Persembahan Sabat Ketiga Belas untuk triwulan kedua tahun 2016 membantu membangun Klinik Hope di Fiji yang dihadiri oleh Mereseini. Terima kasih atas Persembahan Sabat Ketiga Belas Anda pada triwulan ini, yang akan membantu mendukung proyek-proyek kesehatan anak-anak di Kepulauan Solomon dan Vanuatu.




Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp