Berita Misi Advent, 3 Oktober 2026.

Jenny dari Finlandia.
Jenny tidak sedang mencari gereja pada suatu hari musim dingin di pusat Kota Helsinki—ia justru sedang berdoa untuk mendapatkan teman.
Tiga bulan sebelumnya, ia memulai perjalanan iman secara pribadi. Saat menunggu ibunya di klinik dokter, Jenny berjalan-jalan di jalanan sambil diam-diam memohon kepada Tuhan agar mempertemukannya dengan komunitas Kristen. Tiba-tiba, ia merasa terdorong untuk berjalan ke sebuah jalan tertentu di dekat alun-alun yang ramai. Keputusan itu mengubah hidupnya.
Di sana, ia bertemu dengan sekelompok kecil dari OIKOS House, sebuah perintisan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Helsinki. Seorang relawan mendekatinya dengan pertanyaan yang tidak biasa: "Pernahkah ada yang menulis puisi untukmu?"
Ketika Jenny menjawab tidak, relawan itu memintanya menyebutkan tiga kata. Salah satunya adalah "damai." Dalam percakapan itu, Jenny mengaku bahwa ia percaya kepada Tuhan, namun ia belum menyadari bahwa kelompok tersebut adalah orang Kristen. Ketika mereka menjelaskan bahwa mereka mengundang orang ke gereja, seorang relawan lain, Linda, memperkenalkan OIKOS House. Mereka pun bertukar kontak dan Jenny menerima undangan sederhana itu.
Pada awalnya, Jenny ragu. Namun ia percaya kepada Tuhan yang telah menuntunnya ke jalan tersebut. "Saya tidak takut," katanya kemudian. "Saya tahu ini berasal dari Dia."
Dua pekan kemudian, ia datang dan menekan bel pintu OIKOS House. "Saya membayangkan sebuah gedung gereja," kenang Jenny sambil tersenyum. "Saya berpikir, bagaimana jika di dalam hanya ada keluarga yang sedang makan malam? Tetapi saya berdoa, ‘Tuhan, Engkau yang menuntun saya ke sini—maka teruslah menuntun saya.’"
Ia disambut dengan hangat. Ibadah berlanjut ke dalam percakapan kelompok kecil, dan orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal segera menjadi teman. "Rasanya seperti keluarga sejak awal," katanya. "Jadi saya terus datang."
Jenny tumbuh dalam keluarga dengan latar belakang agama yang berbeda, karena kedua orang tuanya berasal dari dua agama. Namun, pergi ke gereja tidak pernah menjadi bagian yang konsisten dalam hidupnya. Saat dewasa, ia menjalani gaya hidup sekuler dan terjebak dalam hubungan yang menyakitkan hingga membuatnya terluka secara emosional.
"Saya sangat menderita dan mencari sesuatu untuk saya pegang," katanya. "Saya tahu tentang Tuhan, dan itu menjadi harapan terakhir saya." Dalam keputusasaan, ia berdoa, "Jika Engkau benar-benar ada, tolonglah saya."
Dan Tuhan menjawab. Saat Jenny mulai membangun hubungan pribadi dengan Yesus, ia menemukan kekuatan untuk meninggalkan hubungan menyakitkan sebelumnya dan cara hidup lamanya. Dalam doa, Tuhan juga melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan—Ia menghilangkan kemarahan dan kepahitan dalam hatinya.
"Saya menyadari bahwa saya tidak lagi membenci dia [mantan pacarnya yang pernah mengkhianatinya]," katanya. "Dan saya mengatakan kepadanya bahwa Yesus telah menghapus kemarahan itu." Melalui pengampunan, Jenny dapat membagikan Injil kepada mantan pacarnya—sesuatu yang ia katakan tidak mungkin ia lakukan dengan kekuatannya sendiri.
Setelah meninggalkan kehidupannya yang lama, Jenny mengalami masa pertumbuhan yang tenang—waktu bersama Tuhan, keluarganya, dan doa untuk mendapatkan teman baru. Doa-doa itu dijawab melalui OIKOS House.
"Apa yang paling saya sukai dari OIKOS adalah bahwa ini seperti keluarga," katanya. "Semua orang diterima apa adanya. Orang-orang dari berbagai latar belakang—dan semuanya bisa berjalan dengan baik."
Melalui komunitas itu, Jenny bertemu dengan Timi, yang sebelumnya adalah bagian dari tim inti OIKOS. Persahabatan mereka berkembang menjadi hubungan yang berakar pada iman, doa, dan tujuan hidup. Setelah berpacaran selama sembilan bulan, mereka bertunangan dalam program pemuridan ARISE dan menikah pada Juli 2025.
Jenny juga mengikuti ARISE Finlandia, sebuah program pemuridan dan pelayanan selama tiga bulan yang diadakan di Finlandia bagian timur. Di sana, belajar Alkitab, hidup dalam komunitas, dan pelayanan langsung memperdalam imannya. "Hal terpenting yang saya pelajari," katanya, "adalah bahwa Tuhan itu kasih. Ketika Anda memahami itu, seluruh Alkitab menjadi satu kesatuan."
Saat ini, Jenny sedang belajar pendidikan anak usia dini di Universitas Helsinki, mempersiapkan diri untuk masa depan pelayanan. Ia dan Timi tinggal dekat OIKOS House, hanya beberapa menit dari tempat pertama kali ia menekan bel pintu.
Melihat ke belakang, Jenny melihat dengan jelas tangan Tuhan: dari doa sederhana di jalan kota hingga keluarga rohani, kehidupan yang dipulihkan, dan hati yang siap untuk melayani. "Saya tidak langsung menghubungkan semuanya," katanya. "Tetapi sekarang saya melihat—Tuhan yang menuntun saya sepanjang jalan itu."
Di seluruh Finlandia, banyak orang dewasa muda seperti Jenny sedang mencari komunitas, tujuan hidup, dan tempat iman terasa nyata dan dijalani. Sebagian dari Persembahan Sabat Ketiga Belas pada triwulan ini akan membantu OIKOS House memperluas pelayanannya dengan memulai perintisan gereja baru yang dirancang khusus untuk keluarga.
Sama seperti undangan sederhana di jalan Helsinki yang menuntun Jenny kepada keluarga rohani dan kehidupan baru di dalam Kristus, persembahan misi Anda membantu menciptakan ruang sehingga orang lain dapat bertemu dengan Tuhan, menemukan rasa memiliki, dan memulai perjalanan iman mereka sendiri.