Berita Misi Advent, 28 Februari 2026. 

Jordan dari Fiji.



Dari Fiji ke Garis Depan

Semua berawal dari api yang menyala dalam hatiku, panggilan yang tak bisa aku abaikan. Pada tahun 2023, setelah berbagi kisahku di podcast, aku yakin aku berada di ambang sesuatu yang besar. Hanya beberapa bulan kemudian, aku lulus dengan gelar teologi, penuh harapan dan antusias untuk melayani di mana pun Tuhan mengirimku.

Lamaran pertamaku adalah ke Misi Tonga untuk mengisi lowongan chaplain. Ketika aku menerima tanggapan positif dua pekan kemudian, aku berkemas dengan semangat dan berdoa dengan keyakinan, percaya bahwa inilah saatnya bekerja-posisi misionaris resmi pertamaku. Tetapi begitu cepatnya pintu terbuka, begitu pula tertutup. Misi tersebut mempertimbangkan kembali keputusannya, dan aku tidak lagi dibutuhkan.

Aku melamar posisi misionaris di organisasi Advent lain, tetapi tidak ada yang berhasil. Aku merasa putus asa. Aku merasa tidak terlihat dan terlupakan. Namun, sebuah kata bijak yang tenang mengubah segalanya.

Salah satu guruku, Dr. Tabua Tuima, menatap mataku dan berkata, "Mulailah pelayananmu di Fiji sebelum melangkah ke dunia." Kata-katanya menancap di hatiku.

Tidak lama setelah itu, aku bertemu dengan sekretaris pelayanan misi Fiji. Dia mendorong aku untuk mengirimkan permohonan resmi ke kantor misi. Dengan rendah hati, aku mengirimkan lamaran sederhana, mengungkapkan keinginan untuk melayani di antara penutur asli Fiji dan bekerja di bidang komunikasi.

Pada akhir Maret 2024, Tuhan membuka pintu yang tidak pernah kuduga. Aku ditugaskan untuk mengawasi tiga gereja di kota tersebut. Aku tidak memiliki jabatan atau gaji hanya panggilan, hati yang rela, dan misi.

Sejak hari pertama, aku dihadapkan pada tantangan yang berat. Hambatan bahasa adalah gunung yang harus kudaki. Aku harus belajar dengan cepat bagaimana berkhotbah, berdoa, dan melayani dengan lancar dalam bahasa Fiji. Suatu hari, istri seorang penatua dengan lembut mengaku, "Beberapa anggota jemaat kami tidak suka dengan pendeta baru kami karena dia berkhotbah dalam bahasa Inggris." Yang lain mempertanyakan mengapa mengirim seseorang yang begitu muda. Aku waktu itu baru berusia 22 tahun.

Kata-kata itu menusuk dalam, tetapi aku tidak membiarkannya mendefinisikan diri. Aku tetap tinggal di situ. Aku berdoa. Aku bertahan.

Jadwalku sangat padat. Hari Sabat adalah maraton: Sekolah Sabat di satu gereja, ibadah di gereja lain, dan acara PA di gereja ketiga. Hari kerja dipenuhi dengan pertemuan doa, program pemuda, dan pelayanan kelompok kecil. Tetapi sesuatu yang indah terjadi di tengah kesibukan: aku mulai memahami umat itu. Bahasa mereka menjadi bahasaku. Kepercayaan mereka menjadi pahalaku.

Kemudian, pada bulan Mei, bab baru dimulai. Aku diundang untuk menjadi pembawa acara program sarapan pagi "Coast to Coast" di Hope FM Fiji. Awalnya, aku sangat buruk. Aku tersandung kata-kata, kesulitan dengan peralatan, dan kelelahan akibat pelayanan malam. Pesan negatif datang melalui pesan teks dan email. Tetapi aku tidak menyerah. Aku belajar. Aku mendengarkan. Aku bertumbuh. Perlahan, suaraku menjadi familiar, tidak hanya di Fiji, tetapi juga di seluruh dunia.

Di udara, aku berbagi kesaksian, mengeksplorasi prinsip-prinsip gereja, menguraikan ayat-ayat Alkitab, dan menginspirasi pendengar. Di luar siaran, aku sedang menghadapi badai pribadi.

Aku tidak memiliki penghasilan, namun aku merasa terpanggil untuk membantu orang lain. Aku mendukung pendidikan adik perempuanku yang berusia 16 tahun dan memberikan kesempatan yang sama kepada sepupuku yang putus sekolah karena kesulitan. Aku berjanji akan menanggung biaya mereka untuk tiga semester, percaya bahwa Tuhan akan menyediakan. Itu sulit, tetapi aku tidak pernah kelaparan. Penatua utamaku memberi tumpangan, kadang-kadang memberiku hadiah kecil. Aku tidak pernah melupakan kebaikan hatinya yang tenang.

Bahkan hari liburku-Senin-bukan milikku. Aku menghabiskannya dengan sukarela di panti jompo, berdoa agar Tuhan mengajar aku kerendahan hati. Dan Dia melakukannya, melalui tangan keriput dan mata bijak mereka yang kulayani.

Kemudian, aku mendaftar di kursus Bahasa Isyarat Dasar, mengikuti kelas dua kali sepekan selama enam bulan. Aku lulus pada November 2024, bulan yang sama saat aku melunasi biaya sekolah untuk kedua anak perempuan itu. Sebuah keajaiban, sungguh ajaib.

Hari ini, aku berada di Jawa Timur, Indonesia, jauh dari rumah, namun tepat di tempat di mana Tuhan ingin aku berada. Aku mengajar bahasa Inggris di sebuah akademi, membimbing siswa menuju karakter yang menyerupai Kristus di tempat di mana memberitakan Yesus secara terbuka tidak diterima.

Aku berjuang. Aku merasa sendirian. Tidak ada gereja di sekitar sini. Namun setiap hari aku diingatkan: ini adalah ladang misimu. Aku berpegang pada kebenaran bahwa Yesus adalah Teman sejatiku, Teman terbaikku.

Aku merasa terhormat menjadi bagian dari inisiatif / Will Go:

Aku akan pergi ke keluargaku: Tuhan menjawab doaku dan menyelamatkan ibuku dari kecanduan.

Aku akan pergi ke tetanggaku: Aku membantu sepupuku kembali ke sekolah.

Aku akan pergi ke tempat kerjaku: Aku menyumbangkan suara dan waktuku untuk melayani melalui media dan tulisan.

Aku akan pergi ke ujung bumi: Dan kini aku melayani di tanah di mana aku tidak bisa menyebut nama-Nya dengan bebas, tetapi aku bisa menghidupkannya dengan berani.

Ini adalah perjalanan iman, pelayanan, dan penyerahan diriku. Dari Fiji hingga Jawa Timur-Allah telah memimpin aku setiap langkahnya.

Sebagian dari Persembahan Sabat Ketiga Belas dari tahun-tahun sebelumnya telah membantu mendukung pelayanan televisi Hope Channel dan radio Hope FM di Pasifik Selatan. Terima kasih atas Persembahan Sabat Ketiga Belas Anda pada triwulan ini, yang akan membantu mendukung proyek kesehatan anakanak di Kepulauan Solomon dan Vanuatu.




Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp