Berita Misi Advent, 20 April 2024. 

Vlad, dari Uzbekistan.



Selamat Tinggal Masa Lalu.

Bagi Vlad, kehidupan hanya berpusat pada uang, uang, dan uang. Dia menghasilkan banyak uang ketika Uni Soviet runtuh dan Uzbekistan muncul sebagai negara merdeka pada awal 1990-an. Pada siang hari, dia mengelola sebuah pabrik kecil yang memproduksi mentega. Pada malam hari, dia menjalankan bisnis judi poker ilegal.

Vlad menjalani kehidupan yang mewah bersama istrinya, Marina, dan mereka membeli beberapa apartemen di ibu kota Uzbekistan, Tashkent.

Namun, kemudian Vlad tertangkap dan dimasukkan ke penjara. Istrinya meninggalkannya. Segalanya terasa begitu kacau. Di dalam penjara, Vlad berpikir tentang Tuhan untuk pertama kalinya. "Jika Engkau menolong saya, saya akan percaya kepada-Mu," doanya. "Jika Engkau tidak menolong saya, saya tidak akan percaya kepada-Mu."

Satu bulan dan 18 hari kemudian, dia dibebaskan dari penjara. Dia adalah orang bebas di bawah amnesti presiden.

Vlad lupa akan doanya dan kembali mencari uang. Dia menikah lagi dan bekerja di Korea Selatan untuk sementara waktu. Kemudian dia kembali ke Uzbekistan.

Pikirannya kembali kepada Tuhan ketika istri keduanya, Alyona, mulai menghadiri pertemuan penginjilan di sebuah gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Tashkent. Dia mengundangnya untuk pergi bersamanya. Setelah pertemuan-pertemuan itu berakhir, mereka terus pergi ke gereja. Bagi Vlad, hidup tidak lagi berputar di sekitar uang. Hidup mulai berputar di sekitar kasih-kasih kepada Tuhan dan kasih kepada orang lain. Tiga tahun berlalu, Vlad memberikan hatinya kepada Yesus dan dibaptis.

Kemudian dia mulai bekerja sebagai perintis Misi Global, seorang misionaris yang membagikan Injil kepada bangsanya sendiri. Dia membagikan Injil kepada sesama orang Uzbek. Penghasilannya yang dulunya besar turun menjadi hanya beberapa ratus dolar per bulan.

Suatu ujian bagi kehidupan barunya datang ketika dia dihubungi oleh istri pertamanya, Marina.

"Dulu kita bersama-sama memiliki tiga apartemen di pusat kota," katanya. "Berikan semuanya kepada saya."

Marina telah tinggal di salah satu apartemen. Dua apartemen lainnya masih kosong. Vlad tinggal bersama istri keduanya di rumah ibunya. Untuk mengubah kepemilikan, Vlad hanya perlu menandatangani beberapa dokumen di hadapan notaris. "Baiklah," kata Vlad. "Mari kita bertemu di kantor notaris, dan saya akan menyerahkan apartemen-apartemen itu kepadamu."

Notaris itu dipenuhi dengan pertanyaan.

"Apakah Anda ikut memiliki ketiga apartemen ini?" tanyanya kepada Vlad.

"Ya," jawabnya.

"Apakah Anda mengerti bahwa ketiga apartemen itu bernilai beberapa ratus ribu dolar?" tanya sang notaris.

"Ya," jawabnya.

"Anda memberikannya kepada mantan istri Anda secara cuma-cuma?"

"Ya."

"Sudah berapa lama Anda bercerai?"

"Dua belas tahun." "Di mana Anda tinggal sekarang?"

"Bersama istri saya di rumah ibunya."

Notaris itu menatap Vlad dengan heran.

Marina mengerutkan kening. Dia tak suka dengan pertanyaan notaris itu.

"Apa yang kamu lakukan?" katanya. "Jangan mencampuri urusan pribadi kami."

Notaris meminta Vlad untuk menandatangani dokumen tambahan yang menyatakan bahwa dia waras. Kemudian dia melihat Vlad menandatangani apartemen untuk Marina.

Setelah selesai, dia menggelengkan kepalanya tak percaya dan menoleh ke Marina.

"Sementara mantan suamimu memiliki keinginan membara untuk memberikan apartemen, tanyakan padanya apakah dia punya apartemen lagi," katanya.

Marina menatap Vlad.

"Apakah Anda memiliki lagi?" tanyanya.

"Tidak, hanya itu yang saya miliki," katanya.

Kemudian dia meminta maaf padanya.

"Maafkan aku jika aku telah membuatmu kesal," katanya.

Giliran Marina yang menatap Vlad dengan terkejut. "Kamu gila," katanya.

Vlad tak menghiraukan kata-kata tajam Marina. Dia meninggalkan kantor notaris dengan langkah penuh semangat dan sukacita. Dia senang bisa menyerahkan apartemen-apartemen itu. Semua itu adalah bagian dari kehidupan masa lalu tanpa Tuhan. Dia tidak perlu lagi mengingat-ingat cara hidupnya yang lama.

Vlad mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa kecintaannya pada uang adalah masa lalu. Saat ini, dia mengasihi Tuhan dan senang berbagi dengan orang lain.

"Tuhan menyediakan semua kebutuhan saya," katanya.

Sebagian dari Persembahan Sabat Ketiga Belas triwulan ini akan membantu membuka sekolah dasar Masehi Advent Hari Ketujuh yang pertama di Tashkent, Uzbekistan. Terima kasih telah merencanakan persembahan yang murah hati pada tanggal 29 Juni.




Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp