Berita Misi Advent, 18 Mei 2024. 

Chogik dan Tei, dari Georgia.



Mujizat Dihalte Bus.

Chogik menguasai empat baha sa, tetapi dia tidak suka mem baca dalam bahasa apa pun. Dia tidak pernah suka membaca, dan sudah bertahun-tahun dia tidak pernah membuka buku. Kemudian, dia bertemu Tei di sebuah halte bus pedesaan di negara pecahan Uni Soviet, Georgia.

Chogik sedang menunggu di halte ketika Tei tiba. Tei adalah seorang perintis Global Misi, seorang misionaris yang membagikan Injil kepada orang-orang dari bangsanya sendiri di Georgia. Kedua wani ta itu sedang menunggu bus yang sama.

"Kapan busnya akan datang?" Cho gik bertanya.

Tei mengenal supir bus itu.

"Bus akan tiba dalam beberapa menit lagi," katanya. "Saya sudah menelepon supirnya, dan dia bilang sudah dekat."

Tei dan Chogik mulai berbincang.

Tanpa disadari, ternyata mereka tinggal di kota yang sama dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Rupanya Tei me ngenal ibu, saudara laki-laki, keponakan perempuan, dan keponakan-kepona kan laki-laki Chogik. Tei pernah memba wakan makanan untuk mereka selama masa karantina pandemi COVID-19.

Kedua wanita itu menikmati perca kapan mereka dan saling bertukar nomor kontak setelah mereka naik bus. Selama beberapa pekan berikutnya, mereka saling bertukar pesan melalui ponsel.

Pada hari ulang tahun Chogik, Tei memberinya kejutan dengan hadiah berupa tempat garam dan buket bunga mawar merah, putih, dan kuning dari kebunnya. Chogik sangat senang mene rima hadiahhadiah itu di toko tempat dia bekerja sebagai pramuniaga.

Setelah itu, kedua wanita itu mulai saling mengunjungi satu sama lain di rumah. Chogik mengetahui bahwa Tei adalah seorang anggota Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Dia belum pernah mendengar tentang Masehi Advent Hari Ketujuh, dan dia ingin tahu lebih banyak.

Tei mengetahui bahwa Chogik dapat berbicara dalam empat bahasa tetapi tidak suka membaca. Dia tidak pernah membuka buku sejak dia lulus SMA 15 tahun sebelumnya. Tei bertanya-tanya, "Bagaimana saya bisa mengajar Chogik tentang Tuhan jika dia tidak menguji perkataan saya dengan Firman Tuhan?"

Ketika Tei merenungkan pertanyaan itu, dia mengundang teman barunya untuk beribadah di sebuah gereja Advent di ibu kota Georgia, Tbilisi, yang terletak agak jauh jika ditempuh dengan menggunakan bus. Rencananya adalah beribadah di gereja pada pagi hari dan kemudian mengikuti seminar pada sore hari tentang bagaimana memberikan pelajaran Alkitab. Dia mengundang Cho gik untuk mengikuti ibadah pagi, karena berpikir bahwa dia tidak akan tertarik dengan program sore hari karena dia tidak suka membaca.

Tetapi Chogik sangat senang dengan undangan untuk pergi ke Tbilisi dan menyatakan bahwa dia akan meng habiskan waktu seharian bersama Tei. Karena tidak ingin menyinggung pera saan Chogik, Tei pun menyetujuinya.

Chogik menikmati kebaktian Sabat. Dia maju ke depan ketika pengkhotbah menawarkan untuk mendoakan mereka yang ingin lebih dekat dengan Tuhan.

Pada seminar sore hari, sekelompok pendeta duduk di mimbar gereja. Tem pat itu dipenuhi oleh jemaat gereja yang ingin belajar bagaimana memberikan pelajaran Alkitab. Salah seorang pendeta memanggil Chogik, "Saudari, apakah Anda sudah dibaptis?"

"Belum," jawabnya.

"Saya membutuh kan Anda," katanya, dan mengundang nya ke atas mimbar.

Dengan malu-malu, Chogik maju ke depan. Tei duduk di sampingnya di atas panggung untuk membuatnya merasa lebih nyaman.

Kemudian pendeta tersebut memberikan contoh pelajaran Alkitab, menggunakan Chogik sebagai contoh. Pendeta meminta Chogik membuka Alkitab untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan pendala-man Alkitab. Chogik membuka Alkitab untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Pendeta menunjukkan kepadanya bagaimana menemukan ayat-ayat dan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Dalam perjalanan pulang, Tei berta nya kepada Chogik tentang pendapat nya tentang pendalaman Alkitab.

"Saya suka mencari jawaban di dalam Alkitab," katanya. "Saya merasa sangat bahagia sekarang. Saya merasa kan kedamaian yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya."

Tei merogoh tasnya dan menge luarkan sebuah Alkitab. "Aku punya hadiah untukmu," katanya.

Chogik meminta Tei untuk memberikan pelajaran Alkitab kepadanya.

Tei sangat senang. Roh Kudus telah melakukan hal yang tampaknya musta hil. Chogik tidak hanya ingin membaca untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tetapi dia juga ingin membaca Alkitab.

Saat ini, Tei dan Chogik belajar Alkitab bersama-sama, dan Chogik sedang belajar bahasa kelima, bahasa kasih yang kekal dari surga. Wanita itu beribadah bersama pada hari Sabat.

Dalam sebuah wawancara, Tei memuji Tuhan atas pertemuan tak terduga dengan Chogik di halte bus. "Saya bertemu dengan Chogik di halte bus secara tidak sengaja," katanya. "Namun, itu bukanlah suatu kebetulan. Itu adalah mukjizat Tuhan yang luar biasa."

Chogik mengatakan bahwa dia masih tidak suka membaca buku–kecuali Alkitab. "Saya tidak suka membaca, tetapi saya suka membaca Alkitab," katanya.

Sebagian dari Persembahan Sabat Ketiga Belas triwulan ini akan membantu membuka sebuah pusat kesehatan di Georgia. Terima kasih telah merencanakan persembahan yang murah hati pada tanggal 29 Juni.




Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp