Berita Misi Advent, 10 Oktober 2026. 

Joe dari Finlandia.



Setiap Langkah adalah Pertarungan

Joe sudah beberapa kali hampir menyerah dan berbalik pulang. Pada Sabat pagi ketika ia pertama kali datang ke OIKOS House di Helsinki, ada pergumulan kuat di dalam dirinya untuk melangkah ke sana. Meskipun ia baru memulai perjalanan imannya, kecemasan terasa begitu berat saat ia meninggalkan rumah, menuju stasiun kereta, naik kereta, lalu berjalan menuju sebuah rumah yang asing.

"Setiap langkah terasa seperti pertempuran," kenang Joe. Perjalanan singkat dari stasiun seharusnya hanya lima menit, namun justru memakan waktu lima belas menit—dan disertai tiga kali doa. Saat berdiri di depan pintu, Joe ragu. "Bagaimana kalau ini bukan tempatnya? Bagaimana kalau mereka tidak menerima saya?" pikirnya. Ia menekan bel sambil berjanji pada dirinya sendiri bahwa jika tidak ada yang membuka dalam lima detik, ia akan pulang.

Pintu langsung terbuka. Senyum hangat dan sambutan yang tulus segera menghapus rasa takut yang ia bawa sepanjang pagi itu. "Rasanya seperti melewati sebuah penghalang," katanya. "Kecemasan itu hilang begitu saya melangkah masuk." Untuk pertama kalinya, gereja terasa berbeda.

Joe lahir di Thailand dari ayah berkebangsaan Finlandia dan ibu berkebangsaan Thailand. Sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di sekolah Advent. Ia belajar kisah Alkitab, menyanyikan lagu pujian, dan berdoa sebelum makan—namun imannya terasa jauh. "Saya percaya Tuhan itu ada," katanya, "tetapi saya tidak mengenal Dia secara pribadi."

Saat Joe berusia 13 tahun, ibunya meninggal dunia. Kehilangan itu meninggalkan kebingungan dan kepahitan yang mendalam. Kelompok pemuda yang dahulu menjadi tempatnya bernaung juga bubar. Selama bertahun-tahun, ia mencari rasa diterima melalui pesta, alkohol, dan berbagai jalan spiritual alternatif. Namun semua itu hanya memperdalam rasa sakitnya.

Menjelang akhir usia dua puluhan, Joe merasa kosong dan lelah. Depresi, kecemasan, dan sebuah perpisahan yang menyakitkan membebaninya. Suatu malam, ketika merasa dunia tidak lagi memiliki apa pun untuknya, satu kata terngiang di hatinya: berdoa. Ia berdoa dengan jujur, meminta Tuhan mengangkat rasa sakitnya dan memberinya kehidupan baru.

Ketika bangun keesokan harinya, ia tahu ada sesuatu yang berbeda. "Depresi itu hilang," katanya. Beberapa hari kemudian, saat bersepeda menuju tempat kerja di tengah dinginnya musim dingin, ia merasakan sukacita yang muncul dari dalam hati. Dengan hati penuh syukur, ia menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada Tuhan.

Tidak lama kemudian, Joe menerima undangan ke OIKOS House. Ia menemukan orang-orang yang mau mendengarkan cerita hidupnya tanpa menghakimi. Sejak Sabat pertamanya, ia tahu bahwa ia telah menemukan keluarga rohani.

Kini Joe mempelajari teologi dan mempersiapkan diri untuk pelayanan sebagai pendeta. Impiannya adalah melayani di OIKOS House dan membantu merintis gereja-gereja baru, agar orang-orang yang dibebani kesepian, keraguan, atau ketakutan dapat menemukan penerimaan dan kasih Kristus.

Sebagian dari Persembahan Sabat Ketiga Belas pada triwulan ini akan mendukung OIKOS House dalam memperluas pelayanan dan mempersiapkan perintisan gereja-gereja baru bagi generasi berikutnya.




Bagikan ke Facebook

Bagikan ke WhatsApp