Berita Misi Advent, 10 Januari 2026.

Stanislas dari Kalidonia Baru.
Stanislas dibesarkan dalam keluarga Kristen yang kaya akan budaya, iman, dan tradisi. la adalah anak kedua dari delapan bersaudara, dan kenangan masa kecilnya dipenuhi dengan cinta dan ritme kehidupan keluarga. Namun, tragedi menimpa ketika ayahnya meninggal dalam kecelakaan mobil. Saat itu, ibunya Stanislas sedang hamil, mengandung adik bungsunya.
Tidak mampu merawat anak-anaknya sendirian, ia mengirim mereka untuk tinggal bersama kakek-neneknya. Di rumah kakek-neneknya, Stanislas pertama kali menyaksikan kesalehan spiritual yang mendalam. Setiap pagi, ia bangun dengan aroma lembut dari lilin yang menyala dan pemandangan kakek-neneknya berlutut dalam doa. Kakeknya, seorang pekerja gereja yang setia, telah mengabdikan hidupnya untuk melayani Tuhan.
Namun, bahkan sebagai seorang anak, Stanislas mulai bertanya-tanya: Jika Tuhan baik, mengapa seseorang seperti kakekku, yang sangat mencintai-Nya, harus menderita begitu dalam? Ragu-Ragu yang sunyi itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu.
Saat ia memasuki usia remaja, Stanislas telah jauh meninggalkan keyakinannya. la mulai merokok, minum-minuman keras, dan akhirnya, mencuri. Apa yang awalnya merupakan tindakan pemberontakan kecil-kecilan membawanya ke gaya hidup berbahaya yang penuh dengan kejahatan. Ia terlibat dalam pencurian rumah, pencurian mobil, dan perdagangan narkoba. Jalanan mengajarkannya aturan yang berbeda-aturan yang mengatakan hanya yang terkuat yang bertahan.
Kemudian, suatu malam, segalanya berubah. Dalam keadaan mabuk dan mengemudikan mobil curian, Stanislas tiba-tiba mendengar suara di hatinya. "Apa yang kamu lakukan? Beginikah caramu sampai akhir hidupmu?"
Terguncang, ia tahu ia tidak bisa terus hidup seperti itu. Keesokan harinya, ia memutuskan untuk meninggalkan dunia kejahatan dan memulai hidup baru.
Ia kembali ke kampung halamannya untuk membangun kembali hidupnya. Itu tidak mudah membutuhkan waktu satu setengah tahun tetapi Stanislas tekun. Pada usia 18 tahun, ia bergabung dengan militer, menyelesaikan pendidikan pelatihan, dan akhirnya mendapatkan pekerjaan yang stabil.
Kemudian, ia bertemu seorang wanita, dan mereka memulai hidup bersama. Mereka memiliki dua anak, dan segalanya berjalan baik untuk sementara waktu. Namun, luka lama dan rasa sakit yang belum terselesaikan mulai muncul, menciptakan ketegangan dalam hubungan mereka. Akhirnya, pasangan itu berpisah.
Tak lama setelah itu, ayah wanita itu menelepon Stanislas dan memintanya untuk memberi kesempatan lagi kepada putrinya. la setuju, tanpa tahu apa yang akan terjadi.
Pasangannya dibesarkan dalam keluarga Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Meskipun wanita itu sudah lama tidak ke gereja, namun ia tetap membaca Alkitab setiap hari. Suatu hari, ia berkata kepada Stanislas, "Saya ingin kembali ke gereja."
Stanislas menjawab, "Kenapa tidak? Saya sudah mencoba segala cara-mungkin sudah waktunya mencoba datang kepada Yesus."
Dia mulai menghadiri gereja pada hari Sabat, sementara Stanislas mulai pergi ke gereja pada hari Minggu. Terkadang, dia ikut dengan Stanislas, tetapi Stanislas tidak pernah ikut dengannya. Namun, Stanislas menyadari ada sesuatu yang berubah. Pasangannya menjadi lebih tenang dan bahagia. Ada kedamaian dalam diri wanita itu yang tidak bisa dia jelaskan.
Suatu hari, Stanislas bertanya padanya, "Mengapa kamu menghabiskan sepanjang hari di gereja? Gerejaku hanya berlangsung beberapa jam."
Dia tersenyum dan berkata, "Ikutlah denganku. Kamu akan mengerti."
Dia setuju dan hari Sabat pertama di gereja menjadi titik balik bagi Stanislas. Pekabaran pada hari itu menyentuh hatinya dengan cara yang tidak dia duga. Dia belum sepenuhnya memahami Yesus, tetapi ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya.
Pendeta mengundangnya untuk mulai belajar Alkitab. Stanislas menerima.
Saat dia membuka Alkitab, dia mulai menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah menghantuinya sejak kecil. Gambaran tentang Tuhan yang telah rusak dalam pikirannya oleh keraguan perlahan-lahan sembuh. Dia menyadari bahwa suara yang dia dengar bertahun-tahun yang lalu, di dalam mobil curian itu, kini berbicara padanya lagi-kali ini melalui Kitab Suci.
Suatu malam, setelah sesi belajar, ia berbalik kepada istrinya dan berkata, "Saya rasa saya sekarang memiliki iman. Saya akhirnya mengerti apa artinya percaya."
Tak lama setelah itu, mereka menikah dan dibaptis bersama.
Dua tahun kemudian, Stanislas mendaftar di universitas Advent di Fiji, di mana ia meraih gelar dalam teologi. Hari ini, ia bertugas sebagai pendeta di Kaledonia Baru, pulau yang sama tempat perjalanannya dimulai.
Namun kini, ia melayani Allah kakeknya-bukan karena tradisi, melainkan karena keyakinan, cinta, dan hubungan pribadi dengan Kristus.
Persembahan Sabat Ketiga Belas Anda, yang juga dikenal sebagai Persembahan Proyek Misi Triwulanan, akan memiliki dampak abadi dalam kehidupan orang-orang seperti Pendeta Stanislas Weneguei. Persembahan ini akan membantu mendirikan pusat pengaruh di Wallis, yang akan membantu umat Advent membangun jembatan pemahaman dan persahabatan dengan masyarakat di wilayah Misi Kaledonia Baru.